Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Menggendong Sang Ayah Selama Prosesi Haji




Punggungku adalah kursi yang nyaman untuk ayahku…

Itulah ucapan jamaah haji asal India saat menggendong ayahnya yang telah berusia 80 tahun, saat keduanya menunaikah ibadah haji tahun ini, tahun 1435 H/2014 M. Nama anak itu adalah Muhammad Rasyid. Ia berusia 50-an tahun. Rasyid menyatakan, ia bisa saja membawa kursi roda untuk membantu ayahnya menunaikan satu per satu rangkaian ibadah haji. Namun menurutnya ayahnya yang sepuh itu lebih merasa nyaman berada di atas punggunya. Jadi ia lebih memilih cara itu agar ayahnya merasa lebih senang.

“Aku bisa mendorongnya dengan kursi roda atau alat pengangkut sejenisnya, tapi punggungku lebih nyaman untuk ayahku,” katanya kepada harian al-Watan.

Rasyid adalah anak satu-satunya dari sang ayah. Dan ia sangat mencintai ayahnya lebih dari apapun. “Aku sangat dekat dengan ayahku, terutama setelah ibuku meninggal dunia”, katanya.

Dia berkisah, dulu sewaktu kecil ayahnya senantiasa menggendongnya. Mengangkat tubuh kecilnya di atas punggung si ayah. “Sekarang saatnya aku membalas kebaikan ayahku dalam bentuk serupa”.

Sebenarnya sang ayah sejak dulu telah mengutarakan harapan agar bisa menunaikan ibadah haji ke tanah haram. Namun saat itu, kondisi keuangan keluarga mereka tidak memungkinkan. “Ketika ayahku berusia 80 tahun, aku memutuskan untuk membawanya pergi berhaji, tidak peduli berapapun biayanya”, kata Rasyid.

Muhammad Rasyid dan ayahnya yang sudah berusia 80 tahun.
Muhammad Rasyid yang sudah berusia 50-an tahun menggendong ayahnya yang berusia 80 tahun.
Rasyid melanjutkan, “Aku juga bertekad dan berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membiarkan kaki ayahku menyentuh bumi (aku gendong), baik saat thawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh putaran), sa’i (bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa-Marwa), dan saat melempar kerikil jamarat”.

Setelah berhasil menunaikan tekadnya itu, Rasyid teringat akan ucapan seseorang di desanya, desa kecil yang berada di India. Orang-orang mengatakan, ia tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji karena ayahnya yang sangat mencintainya tidak akan mungkin mengizinkannya berangkat ke Arab Saudi. Selain itu, ayahnya juga tidak bersedia apabila ia gendong agar pergi haji bersama. Namun ia telah membuktikan apa yang disangkakan penduduk desa itu keliru. Bahkan, ia tidak hanya berangkat dengan ayahnya saja. Ibu tirinya pun ikut serta bersama-sama menunaikan rukun Islam yang kelima.

Kisah Muhammad Rasyid ini mengajarkan kepada kita tentang berbakti kepada orang tua. Haji saat ini berbeda dengan haji-haji di zaman dulu. Saat ini, jumlah jamaah haji begitu besar dan kondisinya begitu padat. Bahkan pada saat-saat tertentu, untuk masuk Masjidil Haram di waktu-waktu haji pun mendapat peringatan dan pengaturan karena Masjidil Haram sudah tidak mampu menampung jamaah haji. Belum lagi cuaca yang terik menyengat. Namun di tengah kondisi padatnya Masjidil Haram dan lempar jamarat, serta panasnya cuaca, Rasyid berusaha sekuat tenaga menggendong ayahnya yang sudah sangat tua. Terkadang kita dalam keadaan longgar dan mudah, masih sering menolak perintah dan enggan berbuat baik kepada orang tua. Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita bakti dan kasih sayang kepada orang tua kita.

Ia juga menjadi bukti dari sekian banyak bukti kebenaran janji Allah. Janji barangsiapa yang jujur kepada Allah, maka Allah akan mewujudkan cita-citanya. Rasyid telah jujur berniat sepenuh hati mewujudkan cita-citanya dan ayahnya untuk berhaji ke tanah suci. Lalu, Allah bukakan jalan kepadanya.

Kisah Rasyid juga mengajarkan bahwa rezeki haji itu bukanlah hitungan pasti nominal rezeki. Terkadang jalan menuju ke sana Allah bukakan dari pintu yang tiada disangka. Entah apapun dan bagaimanapun caranya. Dan sebaliknya, terkadang rezeki harta itu ada tapi kesehatan atau hal-hal lain jadi penghalang. Terkadang harta itu cukup atau berlebih, namun lemahnya iman menghalangi.

Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah dengan sepenuh hati dan penuh kejujuran bahwa kita ingin menjadi tamu-Nya di rumah-Nya, Baitullah yang mulia, mudah-mudahan Allah kabulkan keinginan dan wujudkan suatu hari nanti. Mohonlah kepada Allah taufik, agar hati kita diberikan spirit untuk menggemakan kalimat talbiyah bersama kaum muslimin dunnia di Baitullah al-haram.

Sumber: saudigazette.com.sa

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com





Kisah Uang Jajan Seorang Anak Kecil



Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek).

Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.

Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya.

Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yangg telah tua renta sambil memelas. Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya.

Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.

Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya; “Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu?

Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”

“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..

“Tek!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.

“Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.

“Kan aku masih punya ayah dan bunda! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.

“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.

“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan bunda, maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.

Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya.

Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya.. “Sayang…ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru..

Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak membalas, “Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku. Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalan seperti kakek tua itu…”

Dan airmata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang. (thayyiba) 


Pencuri yang Lihai



Kisah islami ini terjadi di Irak, negeri yang terkenal dengan negeri seribu malam. Suatu hari terdapat seorang pencuri yang sangat lihai di kota tersebut sehingga sering membuat cemas dan gusar penduduknya. Berbagai cara telah ditempuh untuk dapat menangkapnya, namun nihil. Tak ada hasil sama sekali, sang pencuri tetap saja tidak dapat ditemukan. Tentu saja hal ini semakin membuat khawatir penduduk di sana.
Sampai suatu ketika ada salah satu saudagar kaya yang mengadakan sayembara untuk menangkap pencuri tersebut. Sebelumnya, saudagar tersebut telah kehilangan hartanya akibat dicuri oleh si pencuri. Saudagar itu berjanji akan memberikan seluruh harta yang telah dicuri darinya bagi siapa saja yang berhasil menemukan pencurinya. Sebab, saudagar kaya itu merasa penasaran sebenarnya siapa pencuri yang begitu lihai mencuri di kota tersebut.
Begitu sayembara ini diumumkan tentu saja sangat banyak penduduk yang berpartisipasi, bagaimana tidak hadiah yang ditawarkan begitu menarik perhatian mereka. Namun apa yang terjadi? Tetap saja tidak ada yang mampu menangkap pencuri itu. Sampai akhirnya sang hakim memutuskan untuk meminta bantuan kepada Abu Nawas yang dikenal memiliki kecerdikan dan kesaktian yang luar biasa.
Mendengar berita tersebut, tentu saja membuat si pencuri menjadi takut dan khawatir. Dia sempat berpikir untuk kabur melarikan diri ke kota lain. Namun, dia abaikan pikiran kabur itu. Sebab, melarikan diri hanya akan membuat penyamarannya terbongkar dan membuat sulit untuk mencuri di kota itu lagi.
Kecerdikan Abu Nawas
Tak lama, sepulangnya Abu Nawas dari sebuah perjalanan. Dia memutuskan untuk mengumpulkan seluruh penduduk di sebuah lapangan kota yang cukup besar. Kemudia dia berkata dengan lantang, “Wahai para penduduk kota, kali ini aku akan memberikan kalian masing-masing sebuah tongkat sakti yang telah aku beri mantra. Tongkat ini harus kalian kembalikan kepadaku besok pagi di pengadilan kota. Ketahuilah bahwa tongkat ini akan bertambah panjang satu jari kelingking ketika di pegang oleh pencuri. Dan bagi yang tongkatnya berubah bertambah panjang satu kelingking maka dia akan mengalami kejadian seperti ini.” Abu Nawas kemudian mengangkat tongkatnya dan mengarahkannya ke sebuah pohon kelapa besar di belakangnya.”Duarrrrr.” Tiba-tiba pohon kelapa itu meledak, dan buah kelapa jatuh berguguran.
Penduduk kota yang hadir pun merasa takjub dengan apa yang telah mereka saksikan. Mereka mengira telah melihat kejadian kuar biasa yang dilakukan oleh Abu Nawas. Tanpa mereka sadari bahwa pohon kelapa itu sebenarnya telah ditaburi bubuk mesiu peledak oleh istri Abu Nawas, dan ketika mendapat isyarat dari Abu Nawas secara diam-diam, istri Abu Nawas menyalakan api ke arah sumbu mesiu untuk meledakannya.
Hari Pengadilan yang Adil
Hal ini tentu saja membuat hati si pancuri menjadi semakin takut dan panik. Dia terus saja mencurahkan pikirannya agar bisa lolos dari pengujian besok hari. Sampai akhirnya sebelum tidur dia menemukan cara jitu, dia berpikir bagaimana caranya agar tongkat itu tidak bertambah panjang ketika dia pegang besok hari. Dia memutuskan untuk memotong tongkatnya sepanjang satu jari kelingking, agar ketika esok hari tongkat tersebut bertambah panjang akan tetap sama ukurannya dengan tongkat yang lain. Dengan demikian si pencuri dapat bernafas dengan lega. Sebab dia berpikir telah menemukan cara tepat untuk mengelabui Abu Nawas.
Pada pagi hari, satu per satu penduduk menyerahkan tongkat mereka untuk diperiksa panjangnya oleh Abu Nawas. Tentu saja, itu bukan menjadi masalah besar lagi pikir si pencuri. Dengan tenang dia menyerahkan tongkatnya kepada Abu Nawas. Kemudian setelah menyerahkannya dengan percaya diri dan senyum yang mengembang di wajahnya dia pergi.
Namun apa yang terjadi? Abu Nawas seketika menyuruh penjaga untuk menangkapnya. Abu Nawas tahu bahwa orang itu adalah pencurinya karena tongkatnya berkurang panjangnya sepanjang satu kelingking. Tentu saja itu adalah trik cerdik yang Abu Nawas lakukan untuk menjebak si pencuri. Bagaimana bisa dia membuat tongkat bertambah panjang ketika dipegang oleh si pencuri. Tidak mungkinkan, itu hanya sebah trik yang Abu Nawas gunakan.
Si pencuri pun akhirnya diadili dan dihukum sesuai dengan peraturan yang ada. Abu Nawas yang cerdik berhak mendapatkan seluruh barang curian tersebut. Namun, karena kebijaksanaannya Abu Nawas menyerahkan sebagian harta curian itu kepada keluarga si pencuri dan sebagian lagi dia gunakan untuk dirinya dan untuk dibagikan juga kepada orang yang membutuhkan disekitarnya.
Hikmah dalam kisah islami ini adalah sepandai-pandainya seseorang melakukan dan menyembunyikan suatu kejahatan, dengan izin Allah pasti suatu saat akan ketahuan juga. Oleh karena itu, jangan pernah melakukan kejahatan yang kelak akan merugikan diri sendiri dan orang lain. (abiumi.com)

Nadin dan Hakam puasa Ramadhan



Nadin dan Hakam adalah dua bersaudara. Pada bulan Ramadan, mereka belajar menunaikan ibadah puasa. Karena usianya yang masih kecil, Nadin dan Hakam hanya diminta ibunya berpuasa beduk atau setengah hari saja. Setelah itu, dilanjutkan lagi hingga azan Magrib. Menginjak hari keenam, dua saudara tersebut mendapatkan pengalaman puasa lucu yang sangat mengesankan. Selain itu, cerita tersebut juga memberi pelajaran yang sangat berharga pada mereka.
Pada hari Minggu, Nadin dan Hakam ingin bermain ke rumah kakeknya. Sebelum berangkat, Nadin bertanya pada saudaranya. Dia merasa bingung jika nanti ditanya tentang puasa mereka.
Nadin menegaskan akan menjawab dengan jujur jika dirinya hanya puasa setengah hari. Namun, Hakam merasa malu jika puasanya hanya puasa beduk. Oleh karena itu, dia lebih memilih menjawab bahwa dirinya puasa sehari penuh. Selain itu, dia juga ingin mendapat pujian karena bisa kuat berpuasa hingga Magrib.
Sampai di rumah kakeknya, keduanya memberi jawaban berbeda saat ditanyai tentang puasa mereka. Setelah mendengar pengakuan dari cucu-cucunya, kakek langsung menyediakan aneka makanan yang sangat lezat. Dari sinilah cerita puasa lucu tersebut terus berlanjut.
Menu yang sediakan tersebut hanya cukup untuk satu orang saja. Kebetulan, saat itu waktu telah mendekati azan Zuhur. Kakek sebenarnya tahu jika Hakam berbohong. Oleh karena itu, beliau ingin memberi pelajaran padanya.
Beberapa saat kemudian, kakek berkata bahwa azan Zuhur telah tiba. Bagi yang puasa beduk, ini adalah saatnya untuk berbuka. Sambil berkata demikian, kakek melirik Hakam. Anak itu langsung merasa bingung dan gelisah. Sementara itu, setelah mendengar penjelasan, Nadin langsung melahap semua menu yang disediakan untuknya.
Melihat pemandangan itu, Hakam hanya dapat menitikkan air liurnya saja. Dia sangat menyesal telah berkata tidak jujur sehingga tidak dapat menikmati makanan itu. Namun, pada akhirnya, Hakam menyadari jika berbohong itu tidak baik.


Seorang Mukmin Kecil



Manakala Umar Bin Khatab menjadi Amirulmukminin, dia merasakan tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya sangatlah sulit dan berat. Dia harus berjaga setiap malam untuk mengurusi dan memperhatikan keaadaan seluruh penduduknya, sedangkan pada saat yang sama dia juga memikul tugas untuk menyiarkan agama Islam ke seluruh dunia, dan mengirimkan tentara perang untuk melawan tentara Persia dan tentara Romawi... 

Dia sama sekali tidak ingin memiliki sesuatu apapun yang ada di dunia ini, dia hanya berusaha untuk mempersiapkan kehidupannya di akhirat kelak, beribadah, dan banyak berzikir kepada Allah SWT. 

Suatu ketika, manakala Umar bin Khatab sedang berkeliling kesana-kemari untuk melihat keadaan kaum Muslimin, yang jauh dari kota Madinah Al-Munawwarah, ibukota pemerintahannya, dia berjumpa dengan seorang hamba sahaya kecil yang sedang menggembalakan domba. Umar merasa tertarik untuk berbincang-bincang dengannya. 

Penggembala kecil itu tidak mengetahui bahwa orang yang akan mengajaknya berbincang-bincang adalah Amirulmukminin, seorang Khalifah pengganti Rasullullah SAW. 

Umar tergerak hatinya untuk menguji hamba sahaya kecil panggembala domba itu. Umar lalu berkata kapadanya sambil menunjuk seekor domba yang gemuk. 

“Maukah engkau memberikan domba itu kepadaku?.” 

“Apa?” Penggembala kecil itu menyergah dengan suara kuat karena kaget. 

“Kenapa? Apakah engkau merasa keberatan memberikannya kepadaku?” tanya Umar. 

“Sesungguhnya aku ini telah mendapatkan amanat dan kepercayaan. Kalaulah domba-domba itu milikku, maka aku tidak akan merasa keberatan untuk memberikan seekor diantaranya.” 

“Sikapmu itu merupakan sifat yang sangat kikir.” kata Umar. 

Penggembala kecil itu kemudian menjawab ucapan Umar: 

“Aku wahai tuan, adalah seorang hamba sahaya majikanku. Dan dia adalah pemilik domba-domba ini. Aku tidak berhak untuk memberikannya kepadamu dan juga untuk diriku sendiri.” 

Umar berkata kepadanya: “Janganlah kamu besikap bodoh... katakan saja kepada majikanmu bahwa sesungguhnya seekor serigala telah menerkam dan memakannya ketika domba itu jauh dari kawanannya... majikanmu pasti mempercayai ucapanmu, karena kejadian serupa itu sudah sangat biasa, dan sering kali terjadi.” 

“Tidak, tidak, wahai tuanku .... ini mustahil.... aku tidak akan melakukan tindakan seperti itu. Andaipun majikanku mempercayai ucapanku, lalu apakah aku bisa menyembunyikannya dari Allah SWT yang tidak ada sesuatupun yang bisa disembunyikan dari-Nya?. Apakah aku bisa menyembunyikannya dari malaikat pancatat amal perbuatan kita, Raqib dan Atid?.
Mendengar jawaban seperti itu, Umar kemudian meninggalkan penggembala kecil itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun... akan tetapi ia sangat terkagum dengan jawaban yang menunjukkan dalamnya keimanan penggembala kecil itu kepada Allah SWT, yang mengetahui segala sesuatu yang berlaku, baik yang kecil maupun yang besar. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. 

Umar bin Khatab kembali ke Madinah dan langsung menuju ke rumah pemilik domba yang digembalakan oleh anak kecil tadi dan mengetuk pintu rumahnya. Lelaki pemilik domba itu merasa sangat heran dan kaget karena Amirulmukminin mengetuk pintu rumahnya. Maka keluarlah dia untuk menyambut kedatangan Umar, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. 

Selanjutnya, Sayyidina Umar berkata kepada lelaki itu, “Apakah engkau mempunyai seorang hamba kecil yang menggembalakan sekawanan domba milikmu di luar kota Madinah?” 

“Ya”, jawabnya. 

“Aku ingin agar engkau menjual anak itu kepadaku bersama seluruh kawanan domba yang digembalakannya.” kata Umar. 

“Bagaimana jika aku tidak ingin menjualnya?” 

“Aku akan datang lagi kesini untuk membelinya, seperti hari ini.” jawab Umar. 

“Apakah Amirulmukminin bersedia jika hamba kecil berikut domba yang digembalakannya kuhadiahkan saja?” 

“Tidak... Aku tidak ingin menerimanya sebagai hadiah. Aku hanya ingin membelinya.” jawab Umar. 

“Kalau begitu, bayarlah kawanan domba beserta anak itu sesuai dengan harga yang Amirulmukminin inginkan.” kata si pemilik domba. 

“Aku hanya ingin membelinya sesuai dengan harga pasaran.” jawab Umar. 

Kedua hamba Allah itu kemudian menghitung harga sekawanan domba itu, berikut harga hamba sahaya kecil penggembalanya, seperti harga yang berlaku di pasaran pada waktu itu. Lalu Umar melakukan pembayaran kepada lelaki itu. 

Pada saat anak kecil penggembala domba pulang bersama domba-domba yang digembalakannya, ia merasa heran melihat lelaki yang pernah meminta seekor domba kepadanya, sedang duduk di samping majikannya. 

Rasa herannya berubah menjadi rasa takut, ketika dia mengetahui bahwa lelaki itu tidak lain adalah Amirulmukminin, Umar bin Khattab. 

Saat-saat yang menegangkan bagi anak itu tiba. Ketika ia dipanggil oleh Sayyidina Umar dan majikannya, dia melangkahkan kakinya dengan sangat berat, dia berjalan pelan-pelan, dengan perasaan duka cita yang menyelimuti dirinya. 

Ternyata Amirulmukminin berdiri menyambut kedatangannya seraya berkata : “Bergembiralah, dan bersuka rialah, wahai saudara kecilku.” 

Penggembala kecil itu tidak mempercayai apa yang telah didengar oleh kedua telinganya.....
Mengingat status dirinya sebagai seorang hamba sahaya, dia merasa tidak yakin bahwa kata sambutan itu adalah untuk dirinya, apalagi ketika melihat Umar sampai berdiri menyambutnya. 

Lidahnya terasa kelu dan tidak kuasa untuk mengucapkan sepatah katapun. 

Tiba-tiba Amirulmukminin berkata kepadanya : “Kesinilah........ Kesinilah untuk duduk disampingku.”
Penggembala kecil itu semakin kaget, dan dia semakin tidak kuasa untuk berkata apa-apa atau melangkahkan kakinya ke depan. Kakinya bergetar, matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka. 

“Saya..., saya diminta duduk di samping Amirulmukminin?.
Penggembala kecil itu belum juga mempercayai apa yang telah berlangsung dan telah terjadi.
Barangkali ini hanya mimpi, katanya dalam hati.
Dia masih tetap terdiam di tempatnya, tidak berkata dan juga tidak bergerak. 

Suara Amirulmukminin semakin kuat berbicara kepada penggembala kecil itu: ”Ketahuilah olehmu bahwa sejak saat ini engkau telah menjadi manusia yang merdeka, demi Allah SWT.” 

Pada saat itulah penggembala itu baru bergerak. Dia ingin bersujud di kaki Amirulmukminin, atau mencium kedua tangannya, akan tetapi dia takut dan malu...... Bumi ini terasa berputar, kemudian dia mencari sesuatu untuk tempat bersandar. Terdengar olehnya Sayyidina Umar melanjutkan perkataannya : “Dan domba-domba itu menjadi milikmu.” 

Penggembala kecil itu tidak dapat lagi menguasai dirinya, meneteslah air mata gembira ke kedua pipinya. 

Sayyidina Umar kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pundak anak itu, dan menepuk-nepuknya agar dia tenang kembali seraya berkata: 

“Janganlah engkau merasa heran dan kaget, karena sesungguhnya pada saat kita sedang berada di tempat penggembalaan domba itu, engkau telah menyampaikan sebuah kalimat yang telah menyelamatkanmu dari penghambaan (perbudakan) di dunia. Engkau telah mengatakan: "Andaipun majikanku mempercayai ucapanku, lalu apakah aku bisa menyembunyikannya dari Allah SWT yang tidak ada sesuatupun yang bisa disembunyikan dari-Nya?” 

“Itulah kalimat iman yang telah memindahkan dirimu kepada dunia bebas merdeka. Kami tidak hendak mengekalkan seorang manusia mukmin untuk tetap menjadi hamba sahaya bagi manusia..... Sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah agar menyelamatkan dirimu dari azab di akhirat kelak, sebagaimana Dia telah menyelamatkan dirimu dari azab penghambaan di dunia ini.” 

Sang penggembala kecil kemudian menggiring domba-dombanya..... 

Sekarang dia telah memiliki kemerdekaan dan kebebasan, memiliki domba, serta mempunyai hak untuk memberikan seekor diantaranya kepada Umar bin Khattab, Amirulmukminin, khalifah pengganti Rasulullah SAW. 

Umar tersenyum kepada penggembala kecil itu atas usahanya untuk mengungkapkan terima kasihnya kepadanya. Umar kemudian berkata : 

“Sesungguhnya segala puji dan ucapan terima kasih hanyalah patut disampaikan kepada Allah SWT yang telah memberikan petunjuk-Nya kepada kita.

Kisah Uwais al-Qarni, Sang Penghuni Langit


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Pada zaman Baginda Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bidang dadanya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, wajahnya selalu melihat pada tempat sujudnya dan tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya. 

Pemuda ini tidak pernah lalai dari membaca al-Quran dan senantiasa menangis. Pakaiannya hanya dua helai saja, sudah terlalu lusuh untuk dipakai sehinggakan tidak ada orang yang menghiraukannya.

Beliau tidak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Pemuda ini, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul.
Dia adalah Uwais al-Qarni. Beliau tidak dikenali dan miskin malah banyak orang yang suka mentertawakannya, mengejek-ejeknya, dan menuduhnya sebagai pencuri serta bermacam lagi penghinaan dilemparkan kepadanya.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tidak mempunyai saudara mara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh. Untuk menyara kehidupan sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.

Upah yang diterimanya hanya cukup untuk kehidupan harian bersama ibunya.Jika ada uang lebihan, beliau akan membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Walaupun dalam keadaan serba payah, beliau tidak pernah lalai dalam mengerjakan ibadahnya, sedikit pun tidak berkurang.

Sepanjang hidupnya, beliau melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Peraturan-peraturan yang terdapat di dalam agama Islam sangat menarik hati Uwais dan apabila seruan Islam datang di negeri Yaman, beliau segera memeluknya. Banyak rekan-rekannya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengar secara langsung dakwah Nabi Muhammad saw.

Hati Uwais juga meronta-ronta untuk ke Madinah bertemu kekasih Allah, penghulu para Nabi tetapi beliau tidak mampu karena tidak mempunyai bekal yang cukup untuk sampai kesana. Apa lagi beliau perlu menjaga ibunya. Jika beliau pergi, siapa pula yang akan melihat ibunya.

Dikisahkan ketika terjadi perang Uhud, Rasulullah saw mengalami cidera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Berita ini akhirnya sampai kepada Uwais. Lalu ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada baginda saw, sekalipun beliau belum pernah melihat Rasulullah saw.

Hari berganti hari dan musim pun berlalu, kerinduannya terhadap Rasulullah tak dapat dibendung lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bisakah dirinya baru dapat menziarahi Nabi saw dan memandang wajah beliau dari dekat?

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi saw di Madinah.

Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memahami perasaan Uwais, dan berkata,

Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi dirumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.

Dengan perasaan gembira yang amat sangat, Uwais berkemas untuk berangkat dan sebelum pergi, beliau menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya sepanjang kepergian beliau. Sesudah mencium tangan ibunya yang tercinta, berangkatlah Uwais menuju ke Madinah yang jaraknya sekitar empat ratus kilometer dari Yaman.

Dengan waktu yang cukup lama akhirnya tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segeralah ia menuju ke rumah Nabi saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidatina Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi saw yang ingin ditemuinya.

Namun ternyata baginda saw tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi, beliau teringat akan pesan ibunya sudah tua dan senantiasa dalam keadaan tidak sehat itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, Engkau harus lekas pulang. Disebabkan ketaatan kepada ibunya, pesanan ibunya itu telah mengalahkan suara hati untuk menunggu Nabi saw.

Ia akhirnya memohon kepada Sayyidatina Aisyah r.a. untuk pulang kembali ke Yaman. Uwais lalu menitipkan salamnya kepada Nabi saw dan melangkah pulang dengan perasaan hampa karena tidak dapat bertemu dengan Kekasih Allah.

Sepulangnya dari perang, Nabi saw langsung bertanya tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Beliau adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).

Mendengar perkataan baginda Rasulullah saw, Sayyidatina Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun seketika. Lalu kata Sayyidatina Aisyah r.a., memang benar sebelum ini ada seseorang telah datang mencari Rasulullah saw tetapi orang itu segera pulang ke Yaman, kerana teringat akan ibunya yang sudah tua dan sakit sehinggakan beliau bimbang meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah saw bersabda : Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah bahawa ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya. Sesudah itu baginda saw, memandang kepada Sayyidina Ali k.w. dan Sayyidina Umar r.a. lalu bersabda: Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya untuk kalian karena dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.

Tahun berganti tahun dan Umar r.a menjadi khalifah kedua menggantikan Abu Bakar As-Siddiq yang telah wafat. Abu Bakar dipilih menjadi khalifah selepas Rasulullah saw wafat.

Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan sahabatnya, Sayyidina Ali k.w. untuk mencari Uwais bersama.

Sejak itu, setiap kali ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua akan bertanya tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang dicari oleh kedua-dua sahabat besar itu. Rombongan kafilah dari Yaman menuju ke Syam silih berganti membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, bersegeralah khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.

Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, mereka berdua bergegas menemui Uwais al-Qarni. Sesampainya di tempat Uwais, Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi saw. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, Siapakah nama saudara?

Lalu jawab Uwais, Abdullah. Mendengar jawaban itu, kedua sahabat itupun tertawa dan mengatakan : Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?

Uwais kemudian berkata: Nama saya Uwais al-Qarni.

Sepanjang perkenalan mereka, tahulah mereka bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, beliau baru dapat turut serta bersama rombongan kafilah dagang itu.

Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendoâkan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: Sayalah yang harus meminta doa dari kalian. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari tuan.

Disebabkan didesak oleh dua sahabat besar ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua belah tangannya lalu berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk memberinya uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais sebagai biaya hidupnya. Uwais menolaknya dengan lembut dengan berkata: Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak langsung terdengar beritanya. Tapi diriwayatkan ada seorang lelaki pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais. Kata orang itu, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju ke tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin ribut bertiup dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.

Pada saat itu, kami melihat seorang lelaki yang mengenakan selimut berbulu di berada di satu sudut kapal lalu kami memanggilnya. Lelaki itu bangun lalu melakukan solat di atas air.

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. Wahai waliyullah, Tolonglah kami! Tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami! Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: Apa yang terjadi? Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dibadai ribut dan dihantam ombak ?tanya kami.

Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! katanya. Kami telah melakukannya. Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim! Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami yang lain tenggelam ke dasar laut bersama isinya.

Lalu orang itu berkata pada kami , Tidak mengapalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat. Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? Tanya kami.

Uwais al-Qarni. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir. Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah? tanya Uwais.

Ya,jawab kami. Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menaikinya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah sehingga tidak ada satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiarlah khabar bahawa Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia hendak dimandikan tiba-tiba terlalu banyak orang yang berebut hendak memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafankan, begitu ramai orang yang menunggu untuk mengkapannya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai.

Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebut hendak mengusungnya.

Meninggalnya Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan penduduk Yaman. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenali datang untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampailah ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, ada saja orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka tertanya-tanya: Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala kambing dan unta? Tetapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.

Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahui siapa Uwais al-Qarniyang ternyata tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
Sumber: kisahislami.com