Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi-Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi-Nabi. Tampilkan semua postingan

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Mendirikan Ka’bah



Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam untuk membangun Baitul ‘Atiq, yaitu masjid yang diperuntukkan bagi manusia untuk mereka menyembah Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah kemudian menunjukkan kepada Nabi Ibrahim, di mana hendaknya bangunan tersebut dibangun. Allah menunjuki Nabi Ibrahim lewat wahyu yang diturunkan kepadanya.
Para ulama salaf mengatakan bahwa di setiap tingkat langit terdapat sebuah rumah. Penduduk langit tersebut beribadah kepada Allah di rumah tersebut. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam membuat bangunan seperti itu pula di muka bumi.
Bagaimanakah kisah pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim yang dibantu oleh putra beliau Nabi Ismail ini? Kisahnya agak panjang. Kita mulai sekarang ya…
Dahulu, Nabi Ibrahim ‘alahi salam membawa istrinya Hajar dan putra beliau Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu, Hajar dalam keadaan menyusui putranya.
Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat di samping pohon besar. Pada saat itu, di tempat tersebut tidaklah terdapat seorang pun dan tidak pula ada air. Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma, serta bejana yang berisi air.
Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikuti beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?”
Hajar mengucapkannya berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat ini?” Nabi Ibrahim kemudian menjawab, “Iya.” Hajar lalu berkata, “Dia tidak akan membiarkan kami.” Hajar kemudian kembali.
Di daerah Tsaniah, ketika sosok beliau hilang dari pandangan keluarga yang beliau tinggalkan, Nabi Ibrahim berdoa,
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Ketika persedian air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa, mencari-cari adakah orang di sana, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.
Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang pula di sana. Dia juga tidak mendapati seorang pun.
Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai tujuh kali. Oleh karena itu, di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa dan sebaliknya sampai tujuh kali.
Sampai ke Marwah, Hajar mendengar suara. Lalu dia berkata, “Diamlah”. Dia mendengar suara itu, lalu mencari sumber suara itu dan berkata, “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”
Ternyata dia berada bersama malaikat di tempat di mana terdapat air zam-zam. Lalu, malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya, ia pun menuruni air tersebut, mengisi bejananya dan kembali ke putranya Ismail, kemudian menyusuinya.
Malaikat lalu berkata kepada Hajar, “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena di sini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya”
Setelah beberapa waktu berlalu, serombongan suku Jurhum datang ke tempat tersebut dan tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Hajar.
Nabi Ismail pun beranjak dewasa dan belajar Bahasa Arab dari Suku Jurhum tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita mereka. Diceritakan pula bahwa Hajar kemudian meninggal dunia.
Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Namun, beliau hanya menemui istri Nabi Ismail saja.
Nabi Ibrahim bertanya kepada wanita tersebut ke mana kiranya Nabi Ismail pergi. Istrinya menjawab, “Dia sedang mencari nafkah untuk kami.”
Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang keadaan mereka. Istri Nabi Ismail menjawab, “Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan.”
Mendengar jawaban tersebut, sebelum pulang Nabi Ibrahim berpesan kepada wanita itu untuk menyampaikan salam kepada Nabi Ismail dan berpesan agar Nabi Ismail mengganti pegangan pintunya.
Setelah Nabi Ismail kembali ke rumah, istrinya pun menceritakan peristiwa tadi dan menyampaikan pesan Nabi Ibrahim kepada suaminya.
Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail pun berkata kepada istrinya, “Itu tadi adalah bapakku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada orang tuamu.”
Nabi Ismail pun menceraikan istrinya tadi sesuai dengan pesan Nabi Ibrahim dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum juga.
Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Ibrahim kemudian kembali mengunjungi Nabi Ismail. Namun, Nabi Ismail tidak ada di rumah. Nabi Ibrahim pun menemui istri Nabi Ismail yang baru.
Beliau bertanya dimana Nabi Ismail sekarang. Istrinya menjawab bahwa Nabi Ismail sedang mencari nafkah.
Nabi Ibrahim juga bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu menjawab bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil kemudian memuji Allah azza wa jalla.
Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang makanan serta minuman mereka. Wanita itu menjawab bahwa makanan mereka adalah daging, adapun minuman mereka adalah air. Maka Nabi Ibrahim mendoakan kedua hal ini, “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan air.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim pun pergi dari rumah Nabi Ismail. Namun, sebelumnya beliau berpesan kepada wanita itu agar Nabi Ismail memperkokoh pegangan pintunya.
Ketika Nabi Ismail pulang, beliau bertanya kepada istrinya, “Adakah tadi orang yang bertamu?”
Istrinya menjawab, “Ada, seorang tua yang berpenampilan bagus.” Dia memuji Nabi Ibrahim.
“Ia bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik saja.”
Nabi Ismail kemudian bertanya, “Apakah dia memesankan sesuatu kepadamu?”
Istrinya kembali menjawab, “Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu.”
Nabi Ismail berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu).”
Waktu pun berlalu. Suatu saat ketika Nabi Ismail sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya, dan mereka pun saling melepaskan rindu.
Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalankan perintah.”
Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Apakah engkau akan membantuku?”, Tanya Nabi Ibrahim kembali.
“Aku pasti akan membantumu.” seru Ismail.
Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari yang sekitarnya. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini.”
Pada saat itulah, keduanya kemudian meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mulai mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya.
Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim.
Mereka pun terus bekerja sembari mengucapkan doa, “Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan baitullah itu. Ka’bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah ‘azza wa jalla.(*)
(Sumber: Kisah-Kisah tentang Ka’bah, Penerbit Al-Ilmu)

Kasih Sayang Rasullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap Hewan




Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
1. Dari Suhail bin Hanzhaliyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati unta yang kurus, lalu beliau bersabda,
اِتَّقُوا اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَأَرْكَبُوْهَا صَالِحَةً ، وَكُلُوْهَا صَالِحَةً
“Bertaqwalah kepada Allah dari unta ini, dan kendarailah dengan baik serta beri makan yang baik”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Arnauth).
2. Dari ‘Abdullah dari bapaknya, beliau berkata, “Dahulu kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam safar, lalu beliau berpaling sebentar untuk suatu hajat, kami melihat Humarah (burung berwarna merah) bersama dua anaknya. Kami pun mengambil dua anak tersebut dan datanglah induknya dengan kebingungan (mengepak-epak sayapnya). Tatkala itu datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersabda,
مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بولدها ؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا
“Siapa yang menyakiti burung ini? Kembalikan anaknya ini pada burung ini”.
Dan ketika beliau melihat sekumpulan semut yang kami bakar sarangnya, beliau bersabda,
مَنْ أَحْرَقَ هَذِهِ؟
“Siapa yang telah membakar ini?”
Kami menjawab, “Kami (yang telah membakarnya)”. Beliau bersabda,
لاَ يَنْبَغِي أَنْ يُعذب بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ
“Tidak sepantasnya mengadzab dengan api melainkan Rabbun Nar (yaitu Allah ta’ala)”. (HR. Ahmad dan selainnya dan dishahihkan oleh Al-Arnauth).
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memiringkan bejana untuk seekor kucing sehingga kucing tersebut bisa minum air darinya. Kemudian beliau berwudhu dengan sisanya. (HR. Ath-Thabrani dengan sanad shahih.)
4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةِ ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ ، فََلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, maka perbaguslah dalam membunuhnya, dan jika menyembelih, maka perbaguslah sembelihannya, dan hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sesembelihannya”. (HR. Muslim).
5. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seseorang yang menginjakkan kakinya di atas lambung seekor kambing sambil menajamkan pisaunya dan diperlihatkan di depan mata kambing itu. Beliau bersabda,
أَتُرِيْدُ أَنْ تميتها مَوْتَتَيْنِ ؟ هَلا حَدَّدْتَ شفرتَكَ قَبْلَ أَنْ تضجعَهَا
“Apakah kamu ingin membunuhnya dengan dua kematian? Tidakkah kamu tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkannya?” (HR. Al-Hakim dan beliau berkata hadits ini shahih atas syarat shahih Al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi)
6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ
“Seorang wanita telah diazab karena mengurung seekor kucing sampai mati dan dia dimasukkan dalam neraka, karena dia tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya dan tidak pula dia melepaskannya sehingga bisa makan serangga”. (HR. Al Bukhari)
(Diterjemahkan untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari Qutuf min Syamail Muhammadiyyah, karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Urutan Para Nabi dan Usia Mereka

1.      Adam (Bapak Manusia), hidup selama 1000 tahun, dikubur di India, ada yang mengatakan di Makkah, ada pula yang mengatakan di Baitul Maqdis.
2.      Idris (Akhnuj), hidup di bumi selama 865 tahun.
3.      Nuh (Syaikhul Mursalin atau Syaikh para rasul), hidup bersama kaumnya 950 tahun. Ada yang berpendapat ia dikebumikan di Masjid Kufah, ada pula yang mengatakan di Gunung Merah, dan ada yang berpendapat di Masjidil Haram.
4.      Hud (‘Abir), hidup selama 464 tahun, dikebumikan di sebelah timur Hadramaut (Yaman).
5.      Shahlih, tidak pernah disebutkan oleh kitab-kitab  sejarah berapa lama usianya, ada yang mengklaim bahwa kuburannya ada di Hadramaut.
6.      Luth, tidak ada kitab-kitab yang menyebutkan lama usianya. Diklaim bahwa ia dikebumikan di desa Shou’ar, Hadramaut.
7.      Ibrahim Al-Khalil (Bapak para nabi), hidup selama 200 tahun, dilahirkan 1263 tahun setelah peristiwa topan (di masa Nabi Nuh). Dikebumikan di Al-Khalil (Palestina) bersama makam istri pertamanya, Sarah.
8.      Ismail, hidup selama 137 tahun, dimakamkan di samping ibundanya Hajar, di Makkah.
9.      Ishaq, hidup selama 180 tahun, dimakamkan bersama ayahandanya, Ibrahim as di Palestina.
10.  Ya’qub (Israil), hidup selama 147 tahun dan meninggal dunia di Mesir. Untuk melaksanakan wasiatnya, putranya, Yusuf Alaihissalam memindahkannya ke Al-Khalil (Palestina).
11.  Yusuf (Ash-Shiddiq), hidup selama 110 tahun, meninggal dunia di Mesir, saudara-saudaranya memindahkan jasadnya berdasarkan wasiatnya kemudian dimakamkan di Nablus (Palestina).
12.  Syu’aib (Nabiyullah), tidak disebutkan dalam kitab-kitab sejarah lama usianya, makamnya ditemukan di Hiththin, dekat Thabariyah (Palestina)
13.  Ayyub yang sabar, hidup selama 93 tahun, dimakamkan di samping istrinya di desa Asy-Syaikh Sa’ad, dekat Damaskus.
14.  Dzul Kifli (Basyar), tidak disebutkan dalam kitab-kitab sejarah lama usianya, dilahirkan di Mesir dan wafat di Saina` pada hari-hari tersesatnya (Bani Israel), ada yang mengatakan bahwa ia dimakamkan di samping orang tuanya di bumi Syam.
15.  Yunus, tidak ditemukan dalam kitab-kitab sejarah lama usianya, tidak pula kabar tentang di mana kuburnya.
16.  Musa (Kalimullah), hidup selama 120 tahun, meninggal dunia di Saina` dan dikebumikan di sana.
17.  Harun, hidup selama 122 tahun, meninggal dunia di Saina` dan dikebumikan di sana.
18.  Ilyas, tidak disebutkan dalam kitab-kitab sejarah lama usianya, disebutkan bahwa ia dilahirkan setelah masuknya Bani Israel ke Palestina. Ada yang mengatakan kuburnya di Ba’labak (Lebanon).
19.  Ilyasa‘ (Ilyusya`) begitu juga tidak disebutkan dalam kitab-kitab sejarah lama usianya, tidak pula tempat yang ia tuju setelah kaumnya di Baniyas (Syam) menampakkan kedurhakaannya.
20.  Dawud, hidup selama 100 tahun, disebutkan bahwa kerajaannya berlangsung selama 40 tahun.
21.  Sulaiman, hidup selama 52 tahun, mewarisi kerajaan ayahnya pada saat berusia 12 tahun, dan kerajaannya berlangsung selama 40 tahun.
22.  Zakariya, hidup selama 150 tahun, jasadnya di belah dengan gergaji oleh tangan-tangan yang menyembelih anaknya, Yahya.
23.  Yahya, tidak disebutkan dalam kitab-kitab sejarah lama usianya. Dilahirkan pada tahun yang sama dengan Al-Masih Isa. Ia disembelih pada saat di mihrab atas usulan wanita nakal (bejat) kepada raja zalim. Disebutkan bahwa kepalanya dikuburkan di Jami’ Umawi (Damaskus).
24.  Isa bin Maryam, hidup selama 33 tahun. Allah mengangkatnya ke langit setelah tiga tahun dari masa pengutusannya. Disebutkan bahwa ibunya, yaitu Maryam hidup hingga 6 tahun sepeninggalnya. Dan maryam meninggal dunia pada usia 53 tahun.
25.  Muhammad (Rasulullah saw), dilahirkan di Makkah meninggal dunia pada tahun 570 M pada usia 63 tahun, dimakamkan di rumah Aisyah ra (Masjid Nabawi).
-Dr. Ilyas Zuhair/http://qiblati.com/urutan-para-nabi-dan-usia-mereka.html

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam

Dari Ibnu Abas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Ibrahim datang kepada Ummu Isma'il, sedangkan anaknya Isma'il pada saat itu masih dalam susuan. Sampai kemudian beliau membawanya ke Makkah dan membiarkan mereka berdua disisi al-Bait, tepatnya digundukan pas diatas air Zamzam, bagian atas masjid. Pada waktu itu Makkah tidak berpenghuni seorangpun, tidak pula ada air.
Kemudian Ibrahim berpaling pergi meninggalkan keduanya, maka Ummu Isma'il mengikutinya, sambil berkata: "Wahai Ibrahim, kemana kamu akan pergi, apakah kamu akan tinggalkan kami dilembah yang tak berpenghuni dan tidak ada apa-apanya ini?. Dia mengatakan itu berulang kali, akan tetapi, Ibrahim tetap berjalan tidak menengoknya. Setelah itu, Ummu Isma'il berkata: "Apakah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menyuruhmu? Beliau menjawab: 'Ya'. Kalau begitu -Dia pasti tidak akan menelantarkan kami, kata Ummu Isma'il. Kemudian dia kembali ketempat semula.
Ibrahim terus berjalan, sampai ketika disebuah bukit, tepatnya dibelakang bukit tersebut, tatkala keduanya sudah tidak melihatnya, ia membalikkan tubuh lalu menghadap al-Bait, kemudian berdo'a, dengan do'a-do'a yang tercantum di dalam al-Qur'an, sambil mengangkat kedua tangannya, beliau berdo'a:
"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur".  (QS Ibrahim: 37).
Sedangkan disana, Ummu Isma'il mulai menyusui anaknya Isma'il, dan meminum dari air perbekalannya. Sampai ketika air yang ada dikantong tersebut habis, rasa dahaga mulai menghantuinya, anaknya juga mulai kehausan. Ia melihat kekanan dan kekiri, ketempat yang lebih tinggi barangkali ia bisa melihat ada sesuatu yang bisa membantunya. Maka ia mendapati bukit Shafa, bukit yang paling dekat tidak terlalu tinggi untuknya. Kemudian dia menaikinya, melempar pandangannya ke lembah, barangkali ada orang, namun dia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya dia turun dari Shafa sampai ketika dilembah, dia mengangkat ujung bajunya, kemudian berjalan dengan cepat sekali sampai kiranya melewati lembah tersebut, lalu dia mendatangi bukit Marwa, menaikinya dan melempar pandangan melihat barangkali ada orang? Akan tetapi, dirinya tidak menjumpai seorangpun, dan hal itu dia lakukan sebanyak tujuh kali.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan: "Bersabda Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam: "Itulah sa'i yang dilakukan manusia antara Shafa dan Marwa".
Beliau menlanjutkan: "Ketika dirinya sedang berdiri diatas bukit Marwa, ia mendengar ada suara. Dirinya berkata, suara apa ini, lalu dia memasang pendengaran dan suara itu jelas sekali, kemudian dia mengatakan: "Saya telah mendengar, apakah anda mempunyai air?. Maka dirinya mendapati seorang malaikat tepat berada diatas sumur Zamzam, malaikat tersebut menghentakkan tumit, -atau sayapnya, rawi merasa ragu disini- lalu muncullah air.
Ummu Isma'il lalu mengumpulkan air tersebut dan menggali dengan kedua telapak tangannya, menciduk dan meminum sepuasnya. -Dalam riwayat yang lain disebutkan; 'Menciduk dengan tangannya satu cidukan.
Berkata Ibnu Abbas: "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla merahmati Ummu Isma'il, kalau seandainya dia meninggalkan air Zamzam, -Atau beliau mengatakan; 'Kalau seandainya dia tidak mengumpulkan air tersebut tentu airnya akan kemana-mana'.
Beliau melanjutkan; 'Lalu dirinya minum dan menyusui anaknya. Malaikat tersebut berkata padanya; 'Kalian jangan merasa takut terlantar, sesungguhnya disini adalah rumah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang akan dibangun oleh anak kecil ini bersama bapaknya, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan menyia-yiakan keturunannya'.
Adalah Baitullah pada saat itu berada diatas tanah yang tinggi sehingga sekali datang banjir, Ummu Isma'il menahan dengan tanah disisi kiri dan kanannya.
Keadaannya seperti itu, sampai pada suatu ketika lewat kafilah dari suku Jurhum, atau keturunan Jurhum yang lewat dari arah Kadaa'. Mereka singgah disebuah tempat yang rendah di Makkah, dan mereka mendapati ada banyak burung yang mengitari sebuah tempat, sehingga berkata salah seorang diantara mereka: "Sesungguhnya burung-burung itu sedang mengitari air, mengabari kepada kita kalau dilembah ini pasti ada air". Kemudian mereka mengutus satu atau dua orang untuk mencari kabar, mereka mendapati air, lalu kembali dan mengabarkan berita tersebut. Setelah itu mereka mendatangi lembah dan menjumpai Ummu Isma'il berada disisi air Zamzam, mereka berkata: "Apakah engkau mengizinkan kami untuk tinggal disini? Boleh, jawabnya, akan tetapi, kalian tidak punya hak atas air ini. Kami setuju, jawab mereka atas syarat yang diajukan Ummu Isma'il.
Berkata Ibnu Abbas: "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Dengan sebab itu Ummu Isma'il menjadi orang yang paling disenangi oleh mereka".
Kemudian mereka singgah, dan bertempat tinggal disekelilingnya. Lantas mereka mengutus untuk membawa keluarganya datang ketempat itu untuk tinggal bersama-sama. Mereka adalah orang-orang ahli syair.
Sedangkan anak kecil tersebut telah berubah menjadi seorang pemuda yang beranjak tumbuh dewasa, iapun belajar bahasa Arab dari mereka. Mereka begitu takjub dan senang dengan pemuda yang sedang tumbuh itu, tatkala sudah mencapai usia menikah mereka pun menikahkah dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Kemudian Ummu Isma'il meninggal.
Pada suatu ketika datanglah Ibrahim, setelah Isma'il menikahi seorang wanita, beliau mencari putranya, namun ia tidak menjumpainya. Maka ia bertanya keadaannya pada istrinya, istrinya memberitahu, kalau dia sedang keluar mencari nafkah untuk kami, -Dalam riwayat yang lain disebut; Dia sedang mencari ikan untuk kami-.
Ibrahim lalu menanyakan tentang kehidupan dan keadaannya, istrinya mengatakan, kami sangat buruk, keadaan kami miskin serba kekurangan. Dan mengadukan perkara lain berkaitan dengan suaminya pada Ibrahim.  Lalu beliau mengatakan: "Apabila suamimu datang, sampaikanlah  salamku padanya, lalu katakan padanya agar merubah pintu rumahnya".
Ketika Isma'il datang, dirinya merasa telah kedatangan seorang tamu dirumahnya, maka ia bertanya pada istrinya: "Apakah ada seseorang yang telah datang pada kalian? Istrinya menjawab; Ya, ada seorang yang sudah tua datang kemari, sifatnya begini dan begitu. Dia bertanya tentang kamu, maka saya beritahu dia keadaanmu. Dia juga menanyakan padaku tentang kehidupan kita, lalu saya beritahu keadaanku yang serba kekurangan.
Isma'il bertanya lagi: "Apakah ia memberi pesan padamu? Ya, jawabnya, Dia menyuruhku untuk menyampaikan salamnya padamu, dan mengatakan agar kamu mengganti pintu rumahnya.
Isma'il mengatakan: "Dialah bapakku, dan dia telah menyuruhku agar menceraikanmu, pergilah kamu ke keluragamu". Beliau menceraikannya lalu menikah lagi dengan wanita lain dari kalangan mereka.
Ibrahim meninggalkan mereka beberapa waktu lamanya sesuai apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki, kemudian beliau datang, mengunjungi putranya lagi. Namun dia tidak menjumpainya, lalu ia masuk menemui istrinya, dan menanyakan suaminya. Istrinya menjawab; 'Dia sedang keluar mencari nafkah untuk kami'. Bagaimana keadaan kalian, dia bertanya tentang keadaan dan kehidupannya. Istrinya mengatakan; 'Kami dalam keadaan baik dan berkecukupan, dan dirinya memuji Allah Ta'ala. Beliau bertanya kembali; 'Apa yang kalian makan? Daging, jawabnya. Apa yang kalian minum? Air, jawab istrinya. Ibrahim mendo'akan, Ya Allah, berkahi mereka di dalam daging dan airnya.
Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan; "Pada saat itu tidak ada biji-bijian, kalau sekiranya mereka mempunyai pasti beliau mendo'akannya".
Dan makanan itu, daging dan air tidak pernah lepas dari dari penduduk Makkah sedangkan yang lainnya maka tidak demikian.
Di dalam riwayat yang lain disebutkan: "Kemudian Ibrahim datang, lalu menanyakan pada istrinya, di mana Isma'il? Istrinya menjawab, Dia pergi berburu. Lalu istirnya menawarkan padanya, tidakkah sudi kiranya engkau singgah sebentar, makan dan minum disini? Beliau bertanya; 'Apa makanan dan minuman kalian? Dia menjawab: "Makanan kami adalah daging sedangkan minuman kami adalah air".
Ibnu Abbas mengatakan: "Berkata Abu Qasim Shalallahu 'alaihi wa sallam: "Do'anya Ibrahim memberkahi kalian semua".
Ibnu Abbas melanjutkan; 'Ibrahim berpesan pada menantunya; 'Apabila suamimu datang, sampaikan salamku atasnya, dan suruh dia agar menjaga pintu rumahnya'.
Ketika suaminya Isma'il datang, ia bertanya pada istrinya; 'Apakah ada orang yang telah datang pada kalian? Istrinya menjawab: "Ya, tadi ada orang tua yang berpenampilan bagus datang kesini'. Istrinya memuji orang tua tersebut, lalu meneruskan, beliau bertanya tentangmu, saya kabarkan tentangmu. Beliau bertanya, bagaimana keadaan kita. Saya kasih tahu, kalau keadaan kami baik".
Isma'il bertanya: "Apakah dia memberi pesan padamu?. Ya, jawabnya, dia mengucapkan salam padamu, dan menyuruhmu agar menjaga pintu rumahnya. Dialah bapakku, kata Isma'il, dan engkau lah pintu rumah itu, dan dia menyuruhku agar menjagamu.
Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka beberapa saat lamanya sesuai apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki, hingga pada suatu saat beliau mengunjungi putranya kembali. Tatkala datang Isma'il sedang meraut anak panah di bawah pohon dekat dengan Zamzam. Ketika dia menyadari kedatangan ayahnya, dia lalu bangkit, berlari kearahnya. Maka keduanya melakukan seperti halnya seorang bapak terhadap putranya, dan seorang anak kepada bapaknya.
Setelah itu Ibrahim berkata pada putranya: "Wahai Isma'il, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memerintahkan padaku suatu perkara". Kerjakan apa yang telah diperintakan padamu, jawab putranya. Apakah kamu mau membantuku? Saya akan membantumu, jawabnya. Ibrahim mengatakan: "Allah Shubhanahu wa ta’alla menyuruhku supaya membangun sebuah rumah disini". Beliau mengisyaratkan pada gundukan tanah yang agak lebih tinggi dari sekitarnya.
Maka selanjutnya dibuat pondasi Baitullah oleh mereka berdua. Isma'il yang mengambil batu sedangkan Ibrahim yang membangunnya, sampai ketika bangunan sudah tinggi. Putranya mengambil batu ini, lantas meletakan dibawah kaki ayahnya, kemudian beliau mulai membangun dengan berpijakan pada batu tersebut. Ibrahim membangun sedangkan Isma'il mengulurkan batu-batunya, dan keduanya mengatakan:
"Ya Tuhan Kami terimalah amalan kami, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".  (QS al-Baqarah: 127).
Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Sumber: islamhouse.com



Para Nabi Pun Diperintahkan Mengucapkan Insya Allah


Para nabi dan rasul adalah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Mereka adalah orang-orang yang Allah cintai, mereka mengemban risalah langit untuk mendakwahi manusia agar menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Walaupun Allah mencintai mereka, tidak mesti Allah Subhanahu wa Ta’ala merealisasikan apa yang mereka harapkan. Mereka masih dianjurkan untuk mengucapkan insya Allah (atas kehendak Allah) ketika mencita-citakan sesuatu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah menegur Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamlantaran ada seorang yang bertanya kepada beliau tentang suatu perkara, lalu beliau besok saya jawab –dengan keyakinan wahyu dari Allah akan turun-. Ternyata wahyu mengenai jawaban terkait tidak kunjung turun dan ketika wahyu datang malah berupa teguran kepada beliau agar mengucapkan insya Allah. Demikian juga kejadian yang dialami Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sulaiman bin Daud ‘alaihissalam pernah berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir seratus istri saya pada malam ini. Semuanya akan melahirkan anak yang ahli berkuda yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu temannya berkata kepadanya, ‘Katakanlah ‘Insya Allah’,’ tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan ‘insya Allah’. Ternyata dari semua istrinya tersebut yang hamil hanya seorang istrinya, itupun hanya melahirkan separuh anak. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan ‘Insya Allah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain yang terdapat di dalam kitab ash-Shahihain juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata, ‘Sungguh, saya akan menggilir tujuh puluh istri saya pada malam ini. Masing-masin akan melahirkan seorang pasukan berkuda yang berjuang di jalan Allah.’ Akan tetapi beliau tidak mengucapkan ‘Insya Allah’. Lantas beliau pun menggilir mereka. Ternyata yang hamil hanyalah seorang istri yang melahirkan separuh anak, lantas anak tersebut dibawa ke atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, lalu diletakkan di pangkuannya. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengucapkan ‘Insya Allah’, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman.” (QS. Shad: 34)
Para nabi dan rasul yang merupakan wali-wali Allah pun masih diajarkan beradab kepada Allah untuk mengatakan insya Allah ketika mencita-citakan sesuatu, apalagi kita yang manusia biasa.
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Kisah Qurban yang Menakjubkan




Melanjutkan kisah Nabi Ibrahim terdahulu, berikut ini kisah Qurban yang menakjubkan, yang menunjukkan ketakwaan keluarga Nabi Ibrahim alaihis salam.


Dalam eBook ini, dikisahkan tentang kesabaran keluarga Nabi Ibrahim, setelah kelahiran putera pertama mereka Ismail alahis salam, yang harus ditinggalkan jauh bersama ibunya di Makkah, kesabaran Hajar, Ibunda Ismail, yang diakhiri dengan kisah menakjubkan, penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahnya, yang menunjukkan ketaatannya kepada Allah, serta baktinya yang begitu besar kepada ayahnya tercinta.


Di bagian akhir juga disertai pesan moral bagi anak sebagai buah dari kisah ini dan kuis ringan untuk selingan bagi anak.

Semoga bermanfaat!

Donwload eBook

Kisah Qurban yang Menakjubkan

Kisah Awal Kenabian


Sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak kepada Nabi Muhammad shallalalhu alaihi wasallam, berikut ini kami sajikan bagian pertama dari rangkaian seri Sirah Nabawiyyah yang insya Allah akan disajikan sebagai Bacaan Anak Muslim secara bertahap.

Sebagaimana judulnya, eBook ini menyajikan kisah seputar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebelum beliau diutus sebagai Nabi dan Rasul. E-Book ini secara ringkas berkisah tentang masa sebelum kelahiran beliau, masa kecil belliau serta perjlanan hidup Rasulullah hingga menjelang diutusnya beliau sebagai Nabi dan Rasul. Semoga eBook ringkas ini bermanfaat untuk muslim kecil anda. 

Download (klik kanan save target as), atau >baca online



http://bam.raudhatulmuhibbin.org

KISAH NABI ISA ‘ALAIHISALLAM

Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di dalam al-Qur'an ialah Isa. Baginda diutus kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum al-Qur'an.
Di dalam al-Qur'an, Nabi Isa disebut dengan empat panggilan iaitu Isa,Isa putera Mariam, putera Mariam, dan al-Masih.
Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya, "Dan ketika malaikat-malaikat berkata, 'Wahai Mariam, Allah memilih kamu, dan membersihkan kamu, dan Dia memilih kamu di atas semua perempuan di semua alam'" (3:42).
Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh satu ujian yang amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.
Kelahiran
Kelahiran Nabi Isa merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di dalam al-Qur'an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Mariam atas perintah Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat. Kemunculan malaikat membuat Mariam menjadi takut lalu berkata,
"Aku berlindung pada Yang Pemurah daripada kamu, jika kamu bertakwa (takut kepada Tuhan)!'
Dia (malaikat) berkata, 'Aku hanyalah seorang rasul yang datang daripada Pemelihara kamu, untuk memberi kamu seorang anak lelaki yang suci.'" (19:18-19)
Pada ayat yang lain, diceritakan bahawa malaikat yang datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal dilahirkan. Nama itu diberi oleh Allah, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan. Ayatnya berbunyi:
"Wahai Mariam, Allah menyampaikan kepada kamu berita gembira dengan satu Kata daripada-Nya, yang namanya al-Masih, Isa putera Mariam, terhormat di dunia dan di akhirat, daripada orang-orang yang didekatkan." (3:45)
Kemudian Mariam bertanya,
"Bagaimanakah aku akan ada seorang anak lelaki sedang tiada seorang manusia pun menyentuhku, dan bukan juga aku seorang jalang?" (19:20)
Malaikat menjawab,
"Dia (Allah) berkata, 'Begitulah; Pemelihara kamu telah berkata, 'Itu mudah bagi-Ku; dan supaya Kami membuat dia satu ayat (tanda) bagi manusia, dan satu pengasihan daripada Kami; ia adalah perkara yang telah ditentukan'" (19:21).
Maka lahirlah Isa putera Mariam lebih enam ratus tahun sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Allah membuat Nabi Isa dan ibunya satu ayat (tanda) bagi manusia, iaitu tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya (23:50).
Allah juga menyatakan bahawa Nabi Isa adalah seperti Adam, walaupun Adam diwujudkan tanpa ibu dan bapa. Kesamaan mereka berdua adalah pada ciptaan. Kedua-duanya dicipta daripada tanah (3:59). Itu menunjukkan mereka adalah manusia biasa, kerana manusia dicipta daripada tanah.
Kerasulan dan Kenabian
Isa adalah seorang Nabi dan juga seorang Rasul. Baginda dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah daripada rasul-rasul lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan darjat, dan bagi Isa, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya dengan Roh Suci. Firman-Nya:
"Dan rasul-rasul itu, sebahagian Kami melebihkan di atas sebahagian yang lain. Sebahagian ada yang kepadanya Allah berkata-kata, dan sebahagian Dia menaikkan darjat. Dan Kami memberikan Isa putera Mariam bukti-bukti yang jelas, dan Kami mengukuhkan dia dengan Roh Qudus (Suci)." (2:253)
Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah untuk membeza-bezakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi,
"Katakanlah, 'Kami percaya kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, dan Ismail, dan Ishak, dan Yaakub, dan puak-puak, dan apa yang diberi kepada Musa, dan Isa, dan apa yang diberi kepada Nabi-Nabi daripada Pemelihara mereka. Kami tidak membeza-bezakan seorang pun antara mereka, dan kepada-Nya kami muslim.'" (2:136)
Akibat membeza-bezakan Nabi atau Rasul dapat dilihat pada hari ini, iaitu Nabi Isa dipercayai oleh sesetengah pihak sebagai Tuhan atau anak Tuhan, dan Nabi Muhammad, dianggap macam Tuhan, yang berhak membuat hukum agama.
Ajaran
Oleh kerana Isa seorang Nabi baginda diberi sebuah Kitab, Injil, yang mengandungi petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani Israil. Selain menyuruh Bani Israil menyembah Allah dengan mentaati Injil, baginda mengesahkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dua firman Allah menjelaskannya di sini, berbunyi:
"Dan Kami mengutus, menyusuli jejak-jejak mereka, Isa putera Mariam, dengan mengesahkan Taurat yang sebelumnya; dan Kami memberinya Injil, di dalamnya petunjuk dan cahaya," (5:46) dan,
"Aku (Isa) hanya mengatakan kepada mereka apa yang Engkau memerintahkan aku dengannya: 'Sembahlah Allah, Pemelihara aku dan Pemelihara kamu.'" (5:117)
Turut disebut di dalam Injil (dan Taurat) ialah berita mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau ummiy (7:157), dan janji dikurniakan Taman atau Syurga bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah (9:111). Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan al-Qur'an.
Ketika baginda diutus, manusia sedang berselisih dalam hal agama. Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelaskan apa yang diperselisihkan. Firman Allah:
"dia (Isa) berkata, 'Aku datang kepada kamu dengan kebijaksanaan, dan supaya aku memperjelaskan kepada kamu sebahagian apa yang dalamnya kamu memperselisihkan; maka kamu takutilah Allah, dan taatlah kepadaku.'" (43:63)
Baginda juga memberitahu tentang kedatangan seorang rasul selepas baginda, yang namanya akan dipuji. Ayat yang mengisahkannya berbunyi:
"Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku (Isa) rasul Allah kepada kamu, mengesahkan Taurat yang sebelum aku, dan memberi berita gembira dengan seorang rasul yang akan datang selepas aku, namanya ahmad (dipuji).” (61:6)

Masjid Al-Jinn


Yang  terletak  didaerah  pinggiran  Al Hujun.Dibangun diatas tempat yang dahulunya  Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam membuat  garis ditanah untuk Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Sungguh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk membacakan  Al Quran kepada bangsa  Jin. Lalu Beliau membawa Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Beliau berangkat hingga sampai ke daerah Hujun didekat  Shi’b Bani Abu Dubb. [Sawa’ah bin Amir bin Shasha’ah Abu Dubb adalah seorang laki-laki dari bani Abu Dubb]
Diriwayatkan dari Ibnu Usman dari Abdullah bin mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah melaksanakan shalat  Isya, Beliau  berangkat  dan menarik tangan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhudan membawanya keluar hingga tiba disebuah dataran rendah Makkah.
Beliau merintahkannya duduk, kemudian membuat garis yang melingkarinya  seraya bersabda kepadanya, “Janganlah beranjak dari  sini, celakalah engkau. Karena akan datang ketempat ini para lelaki, maka jangganlah berbicara dengan mereka, karena mereka tidak akan berbicara kepadamu.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hingga aku tidak melihatnya lagi. Dalam pada itu tiba-tiba  aku dihampiri oleh para lelaki yang hitam legam [Seperti warna kulit bangsa sudan dan india] ,aku tidak melihat rambut, tubuh, aurat juga kulit mereka.Mereka mendekat hingga berhenti pada garis tersebut, dan mereka tidak melewatinya. Kemudian mereka menuju Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malam hampir habis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku masih berada dalam garis lingkaran. Beliau bersabda: ”Sungguh tadi malam orang-orang itu telah menyakitiku”. Kemudiaan beliau masuk kedalam garis lingkaranku  dan bersandar  dipahaku lalu tertidur. Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur dan terdengar  suara nafasnya.Lalu  Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu melanjutkan hadisnya yang panjang. [Sanad hadits ini hasan, HR. Ahmad no.1399 dan tirmidzi no.2961]
Sumber: Sejarah Mekkah Al-Mukarramah, Syaikh Syafiyur Rahman Al Mubarak Furi, dkk, Darussalam

4 Sifat Nabi: Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh


“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab 21]
Nabi Muhammad memiliki akhlaq dan sifat-sifat yang sangat mulia. Oleh karena itu hendaklah kita mempelajari sifat-sifat Nabi seperti Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh. Memang banyak sifat-sifat baik Nabi lainnya seperti sabar, rendah hati, lemah-lembut, dsb. Namun di sini kita fokus pada sifat yang 4 di atas. Mudah-mudahan dengan memahami sifat-sifat itu, selain kita bisa terhindar dari mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, kita juga bisa meniru sifat-sifat Nabi sehingga kita juga jadi orang yang mulia.
Shiddiq
Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapannya.
Mustahil Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya.
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” [An Najm 4-5]
Amanah
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong.
“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” [Al A'raaf 68]
Mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah.
Ketika Nabi Muhammad SAW ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, beliau menjawab:
”Demi Allah…wahai paman, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur karena-Nya”……
Meski kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Nabi, namun Nabi tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima.
Seorang Muslim harusnya bersikap amanah seperti Nabi.
Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
 “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin 28]
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena telah datang seorang buta kepadanya” ['Abasa 1-2]
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.80:1 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat ini (S.80:1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
Sebetulnya apa yang dilakukan Nabi itu menurut standar umum adalah hal yang wajar. Saat sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita tidak suka diinterupsi oleh orang lain. Namun untuk standar Nabi, itu tidak cukup. Oleh karena itulah Allah menegurnya.
Sebagai seorang yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad tetap menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi.
Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.
Fathonah
Fathonah artinya Cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan 6.236 ayat Al Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.
Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.
Apalagi Nabi mampu mengatur ummatnya sehingga dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antar suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan dalam 1 negara yang besar yang dalam 100 tahun melebihi luas Eropa. Negara tersebut membentang dari Spanyol dan Portugis di Barat hingga India Barat.
Itu semua membutuhkan kecerdasan yang luar biasa.
(Sumber: media-islam.or.id)
Raudhah Masjid Nabawi, Madinah

Kisah Nabi Adam



Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.
Allah subhanahu wa ta'ala ingin menampakkan penghormatan malaikat kepada kepada Nabi Adam secara lahir dan batin. Untuk itu, Allahmj subhanahu wa ta'ala perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam alaihisholatu was sallam:
“Sujudlah kepada Adam!” (QS. Al Baqarah: 34)
Hal ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallamdan dalam rangka ibadah, cinta dan taat kepada Allah subhanahu wata’ala, serta tuduk kepada perintah-Nya. Segeralah para malaikat itu bersujud.
Namun iblis yang berada di tengah-tengah mereka yang tentunya ikut serta mendapatkan perintah itu -iblis itu sendiri bukan dari golongan malaikat melainkan dari golongan jin yang diciptakan dari api-, justru menyimpan kekafiran kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan kedengkian kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Kufur dan rasa dengki itu membuat iblis enggan sujud kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Tak cuma menunjukkan kesombongan, iblis bahkan menyangkal perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan mencela kebijaksanaan-Nya. Katanya:
“Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al A’raf: 12)
Maka Allah katakan:
“Wahai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang telah Kuciptakan dengan dua tangan-Ku? Apakah engkau sombong ataukah engkau (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shad:75)
Kekufuran, kesombongan, dan pembangkangan ini merupakan sebab terusirnya dan terlaknatinya Iblis. Allah subhanahu wa ta'ala katakan kepadanya:
“Turunlah kamu dari surga karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al A’raf: 13)
Iblis enggan tunduk dan bertobat kepada Tuhannya, bahkan menentang, meremehkan, dan bertekad bulat untuk memusuhi Adam alaihishalatu was sallam beserta anak cucunya. Ia pun menyiapkan dirinya saat mengetahui bahwa dirinya telah ditetapkan menjadi makhluk yang sengsara selama-lamanya. Ia, dengan ucapan dan perbuatan bersama bala tentaranya, berikrar untuk mengajak anak cucu Adam alaihishalatu was sallam agar menjadi golongan yang telah diputuskan untuk tinggal di rumah kehancuran (neraka). Iblis nyatakan hal itu dengan mengatakan kepada Allahsubhanahu wa ta'ala:
“Wahai Rabbku, berilah aku waktu sampai hari kebangkitan.” (QS. Shad: 79)
Iblis benar-benar meluangkan waktu untuk menebar permusuhan di kalangan Adam alaihisholatu was sallam dan anak cucunya. Maka tatkala hikmah Allah subhanahu wa ta'ala menuntut agar manusia mempunyai tabiat dan akhlak yang berbeda-beda, maka Allah subhanahu wa ta'ala juga menentukan sesuatu yang menyebabkannya. Yaitu berupa cobaan dan ujian, dan yang terbesarnya adalah diberinya iblis kesempatan untuk mengajak anak Adam alaihishalatu was sallam kepada semua jenis kejahatan. Maka Allah subhanahu wa ta'ala pun menjawab:
“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai pada hari yang telah di tentukan waktunya.” (QS. Shad: 80-81)
Iblis menyambut jawaban itu dengan menegaskan permusuhan kepada Adam alaihishalatu was sallam beserta anak cucunya dan menegaskan maksiatnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, katanya:
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al A’raf:16-17)
Iblis mengucapkan itu berdasarkan sangkaannya, karena ia tahu benar tabiat anak Adamalaihishalatu was sallam. “Dan iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. Saba’: 20)
Allah berikan iblis kesempatan untuk melakukan perkara yang telah menjadi niatannya pada Adamalaihishalatu was sallam dan anak cucunya. Allah katakan:
“Pergilah, siapa yang mengikutimu dari mereka, maka jahannamlah balasan kalian semua sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (QS. Al Isra: 63-64)
Yakni jika kamu mampu, jadikanlah mereka orang-orang yang menyeleweng dalam mendidik anak-anak mereka dengan didikan yang rusak dan dalam membelanjakan harta mereka kepada hal-hal yang mudharat, juga dalam mencari harta dari yang tidak baik. Begitu pula ikut sertalah dengan mereka jika mereka makan, minum, dan berjima’, yakni ketika mereka tidak menyebut nama Allahsubhanahu wa ta'ala. Juga perintahkanlah mereka untuk tidak beriman dengan hari kebangkitan dan pembalasan dan agar mereka tidak melakukan kebajikan. Takut-takuti mereka dengan pembantu-pembantumu, berikan kekhawatiran pada mereka ketika berinfak yang baik dengan kefakiran.
Kesempatan yang Allah berikan ini sesungguhnya demi sebuah hikmah dan rahasia yang besar. Sungguh engkau wahai musuh yang nyata tidak akan menyisakan sedikitpun dari kemampuanmu dalam menyesatkan mereka. Manusia yang jahat akan nampak kejahatan dan kejelekannya, dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mempedulikannya.
Adapun keturunan Adam alaihishalatu was sallam yang terpilih, baik dari kalangan para nabi dan pengikutnya, baik orang-orang yang sangat jujur dalam beriman, dan para wali-Nya, maka Allahsubhanahu wa ta'ala tidak akan menguasakan musuh ini (iblis) atas mereka. Bahkan Allahsubhanahu wa ta'ala menjadikan di sekitar mereka pagar pelindung yang begitu kuat, sebagai perlindungan dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah subhanahu wa ta'ala membekalinya dengan senjata yang tidak mungkin musuh bisa menandinginya, yaitu kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Rabb-nya.
“Sungguh mereka tidak memiliki kekuatan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. An Nahl: 99).
Juga Allah subhanahu wa ta'ala bantu mereka dalam menghadapi musuh yang nyata itu di antaranya dengan menurunkan kitab-kitab yang mencakup ilmu yang bermanfaat, nasehat yang mengena yang memberi semangat untuk melakukan kebajikan dan memperingatkan dari kejelekan. Selain itu, Allah subhanahu wa ta'ala juga mengutus para Rasul yang membawa kabar gembira kepada mereka yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan mentaati-Nya dengan pahala.
Juga memperingatkan orang-orang kafir, yang mendustakan dan berpaling dari Allah, dengan berbagai macam hukuman. Allah subhanahu wa ta'ala juga menjamin orang yang mengikuti petunjuk yang terkandung di dalam kitab-Nya yang dibawa oleh rasul-Nya tidak sesat semasa di dunia dan tidak sengsara kelak di akhirat, tidak takut, serta tidak tertimpa perasaan sedih.
Demikian juga Allah subhanahu wa ta'ala bimbing mereka melalui kitab dan para rasul-Nya kepada hal-hal yang bisa melindungi mereka dari musuh yang nyata ini. Allah subhanahu wa ta'alapun menerangkan kepada hamba-Nya, misi yang dibawa setan dan strateginya dalam menjaring manusia ke dalam perangkapnya. Juga Allah subhanahu wa ta'ala bimbing mereka kepada jalan yang menyelamatkan mereka dari kejahatan setan dan fitnahnya, dan membantu dengan bantuan yang di luar kemampuan mereka. Karena, ketika mereka mengeluarkan segala daya upaya dan minta bantuan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, akan mudah bagi mereka jalan mana saja yang dituju.
Setelah itu Allah subhanahu wa ta'ala sempurnakan nikmat kepada Adam alaihishalatu was sallam dengan menciptakan istrinya Hawa dari dirinya dan jenisnya. Ini dimaksudkan agar tercapai ketenangan dan tujuan-tujuan lain seperti pernikahan, kebersamaan, dan adanya anak keturunan.
Allah subhanahu wa ta'ala juga memperingatkan Adam dan istrinya, untuk berhati-hati dari setan karena sesungguhnya setan adalah musuh bagi mereka berdua. Jangan sampai iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika itu, Allah mempersilahkan mereka makan buah-buahan apa saja yang ada di dalam surga dan menikmati segala kenikmatan yang ada padanya, kecuali pohon tertentu. Allah subhanahu wa ta'ala katakan kepada mereka berdua:
“Dan jangan kalian dekati pohon ini sehingga kalian menjadi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al A’raf: 19)
“Sungguh kamu tidak akan lapar padanya dan tidak telanjang dan sungguh engkau tidak akan dahaga padanya, dan tidak tertimpa panas matahari.” (QS. Thaha: 119)
Maka keduanya tinggal di surga selama dikehendaki Allah subhanahu wa ta'ala dengan segala kenikmatannya. Akan tetapi musuh mereka berdua terus mengintai dan mencari kesempatan. Maka ketika setan melihat senangnya Adam alaihishalatu was sallam di dalamnya dan keinginannya yang besar untuk tetap tinggal di dalamnya, setan datang dengan cara yang lembut seolah seorang yang jujur sedang menasehati, ia katakan:
‘Wahai adam apakah engkau mau kutunjukkan sebuah pohon yang jika kamu memakannya kamu akan kekal di surga ini dan akan langgeng kerajaan ini serta tidak akan rusak’. Terus menerus ia rayu Adam alaihishalatu was sallam. Ia janjikan, ia bisikkan, ia berikan harapan dan seolah terus memberi nasehat padahal itu adalah penipuan yang besar. Hingga setan pun berhasil menipu mereka berdua dan akhirnya keduanya makan dari pohon terlarang itu. Maka ketika makan, terlepaslah pakaian mereka berdua sehingga terlihat auratnya, akhirnya keduanya cepat-cepat mengambil daun-daun surga untuk menutupi badan mereka yang telanjang sebagai pengganti pakaian mereka. Seketika itu pula nampak hukuman Allah subhanahu wa ta'ala atas maksiat yang mereka lakukan, lalu Allah subhanahu wa ta'ala menyeru mereka berdua:
“Tidakkah Aku telah melarang kalian berdua makan dari pohon ini dan Aku katakan kepada kalian berdua sungguh setan adalah musuh yang nyata buat kalian berdua.” (QS. Al A’raf: 22).
Kemudian Allah tumbuhkkan pada hati mereka taubat yang sungguh-sungguh.
“Adam memperoleh beberapa kalimat dari Robbnya.” (QS. Al Baqarah: 22).
Maka keduanya berkata: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah berbuat dzalim pada diri kami, jikalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, benar-benar kami akan menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 23).
Maka Allah terima taubat mereka dan Allah hapus dosa yang telah menodai mereka. Akan tetapi keluar dari surga jika mereka memakan dari pohon itu, sudah menjadi keputusan yang pasti sehingga keluarlah mereka ke bumi yang kebaikannya dicampuri dengan keburukannya, kesenangan dicampuri dengan kesusahannya.
Allah kabarkan kepada keduanya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala pasti akan memberikan cobaan pada keduanya dan anak cucunya, serta orang-orang yang beriman. Yang beramal shalih akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya yang mendustakan lagi berpaling, akibatnya adalah kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal. Allah subhanahu wa ta'ala ingatkan anak cucu Adam akan hal itu, kata-Nya:
“Wahai anak Adam jangan sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan seperti telah mengeluarkan ayah ibu kalian dari surga, ia tanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari seuatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al A’raf: 27)
Allah subhanahu wa ta'ala kemudian mengganti pakaian yang ditanggalkan oleh setan dari Adam dan Hawa dengan pakaian yang menutupi aurat mereka dan menghiasi mereka secara lahir. Juga dengan pakaiaan yang lebih baik dari itu yaitu pakaian ketakwaan, yakni pakaian hati dan rohani dengan iman, keikhlasan, taubat dan hiasan dengan segala akhlak yang indah serta menanggalkan segala akhlak yang hina. Lalu Allah subhanahu wa ta'ala tebarkan dari Adam alaihishalatu was sallam dan istrinya anak turun yang banyak laki-laki maupun perempuan di muka bumi. Allah ganti mereka generasi demi generasi untuk dilihat oleh-Nya apa yang mereka lakukan.
Faedah yang dipetik:
Allah subhanahu wa ta'ala jadikan kisah itu sebagai ibrah untuk kita yaitu bahwa sesungguhnya sombong, dengki, dan ambisi merupakan akhlak yang berbahaya buat seorang hamba. Kesombongan dan kedengkian iblis membawanya kepada apa yang kita lihat, demikian juga keinginan kuat Adam alaihishalatu was sallam dan istrinya mengantarkan mereka memakan buah pohon itu. Kalaulah rahmat Allah subhanahu wa ta'ala tidak segera menyelamatkan, sungguh perbuatan mereka itu akan menyampaikan kepada kebinasaan. Akan tetapi rahmat-Nya segera menyempurnakan yang kurang, memperbaiki yang rusak, menyelamatkan yang binasa dan mengangkat yang telah jatuh.