Tampilkan postingan dengan label Permaian Tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permaian Tradisional. Tampilkan semua postingan
“SLUKU-SLUKU BATHOK” DOLANAN ANAK JAWA TAHUN 1935
Ada banyak permainan anak Jawa, yang lazim disebut ‘dolanan’. Salah satu dolanan itu dikenal dengan nama ‘Sluku-sluku Bathok’. Biasanya dolanan ini dimainkan oleh kaum perempuan, bisa berjumlah empat atau lebih. Meski bisa dilakukan sendiri, tapi hampir jarang dilakukan, karena dolanan ini memerlukan interaksi dengan orang lain.
Tahun 1960-an sampai pertengahan tahun 1970-an, Sluku-sluku Bathok masih sering dimainkan oleh anak-anak Jawa. Tidak hanya anak-anak yang tinggal di kota, anak-anak yang tinggal di pinggiran kota, atau lazim disebut sebagai desa, masih bermain Sluku-sluku Bathok. Bahkan mungkin sampai akhir tahun 1970-an dolanan Sluku-sluku Bathok masih dimainkan. Dalam bermain, sambil duduk dengan kaki berselonjor dan mengelus permukaan kaki dari atas ke bawah secara terus menerus sembari bernyanyi. Begini lagu Sluku-sluku Bathok itu:
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang solo
Oleh-olehe payung motha
Mak jenthir lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleko duwit
Foto yang tertera pada tulisan ini adalah foto dolanan Sluku-sluku Bathok tahun 1935. Foto ini dokumentasi Museum Sanabudaya dan dipakai sebagai ilustrasi tanggalan oleh ELTI-EltiRa.
Dari tahun foto yang tertera, bisa kita mengerti, bahwa dolanan Sluku-sluku Bathok sudah lama dikenal oleh anak-anak Jawa. Pada tahun 1935, setidaknya seperti terlihat pada foto, anak-anak perempuan Jawa masih berpakaian sangat sederhana. Pakaian yang dikenakan hanya untuk menutupi bagian dada ke bawah.
Dolanan ini bisa dimainkan sore hari, petang hari, atau juga siang hari. Pendeknya, Sluku-sluku Bathok dimainkan untuk mengisi waktu senggang. Dolanan ini bisa mengakrabkan pergaulan.
Tetapi, Sluku-sluku Bathok sekarang tidak lagi dikenal oleh anak-anak, yang terbiasa bermain menggunakan teknologi modern. Barangkali juga, anak-anak tidak mengenal nama dolanan Sluku-sluku Bathok.
Ons Untoro-http://www.tembi.net
Balap Karung
Satu permainan tradisional yang biasanya untuk mengisi acara-acara dalam keramaian atau perayaan-perayaan tertentu. Umumnya diadakan pada siang atau sore hari. Posisi semacam ini ternyata tidak berubah dari sejak zaman Belanda hingga zaman sekarang ini. Sebagai acara pengiring, sifatnya tidak begitu ritual melainkan lebih untuk memeriahkan suasana gembira, baik perayaan-perayaan di kalangan orang dewasa maupun kanak-kanak.
Di kampung-kampung, di sekolah sekolah dasar, pada zaman dahulu tatkala diadakan perayaan-perayaan, anak atau pun murid-murid beramai-ramai memainkan "balap karung". Mereka umumnya laki-laki sekitar umur 6-12 tahun. Kadang-kadang orang dewasa ikut serta tapi bersifat sebagai penggembira saja, tidak sebagai peserta penuh. Mereka berasal dari berbagai lapisan dan kelompok masyarakat. Sebagai suatu hiburan, unsur yang menonjol adalah kompetisi, kelucuan dan kemeriahan. Biasanya yang menang, karena ada panitia, akan diberi hadiah tertentu betapapun sederhana. Dalam proses berbalap terjadi kelucuan-kelucuan karena tingkah laku pengikut yang mengalami kesulitan dalam lari terburu-buru dalam karung, memuncak bila ada yang jatuh tunggang langgang dan bangun lagi, maka para penonton bersorak sorai dan tertawa terbahak-bahak.
Pada mulanya "balap karung" agak terbatas kalangannya, di perayaan-perayaan dan di lingkungan tertentu, misalnya di sekolah, kampung ataupun lapangan umum. Tapi selanjutnya, di kantor-kantor pun dapat dilihat pula dengan peserta meliputi orang· orang dewasa, wanita maupun laki-laki, pegawai, mahasiswa dan sebagainya. Arena yang dibutuhkan memanjang sekitar 20 meter dan lebar 3-4 meter yang dibagi menjadi 4 atau 5 jalur, menyediakan karung-karung beras dan dimasuki anak ataupun orang dewasa. Kadang-kadang ada yang kekecilan ada juga yang terlalu besar, ada yang setinggi perut atau dada. Jadi tergantung tingginya peserta maupun panjangnya karung. Balapan karung tersebut tidak perlu diiringi musik atau bunyi-bunyian lain, kecuali sorak sorai penonton saja.
Cara berbalapnya, bebas asal tetap dalam karung. Ada yang meloncat-loncat dengan dua kaki, melangkah pelan-pelan, atau lari biasa. Yang paling sering digunakan adalah cara meloncat-loncat. Jatuh adalah soal biasa, cepat bangun lagi melanjutkan sampai di garis akhir. Antara peserta tidak boleh saling menubruk atau menghalangl lawan. Karena sifatnya lebih menonjolkan kelucuannya, meskipun bertanding antara peserta terjadi saling mentertawakan sambil berusaha sekuat tenaga untuk menang. Untuk mulai pertandingan, ada yang menjadi wasit di garis akhir, hasilnya panitialah yang memperhitungkan.
http://www.jakarta.go.id/
Angklung
Alat musik yang terbuat dari bambu yang dibuat dengan nada pentatonic, yang dibunyikan melalui cara digerak-gerakkan atau dipukul. Angklung dikenal dalam kesenian orang Betawi dalam berbagai permainan rakyat dan dipergunakan sebagai alat pengiring pertunjukan tarian yang disesuaikan dengan irama musiknya. Gerak tariannya ada yang menurut pola tertentu, tetapi pada umumnya merupakan gerak spontan dan bersifat improvisasi. Pola geraknya sering mengambil dari patokan tari pergaulan rakyat yang populer.
Pada sekitar abad ke-19 diberitakan bahwa permainan angklung disertai dengan tarian yang juga mempergunakan alat musik kendang. Jenis ini tersebar luas di seluruh Pulau Jawa. Sedangkan di daerah Jawa Barat tarian ini sering dilakukan oleh ronggeng atau tandak yang tergabung dalam rombongan barangan sebagai mata pencaharian mereka. Di daerah Sunda permainan angklung lebih dikenal sebagai reog atau ogel, dan ada kalanya digabung dengan permainan rebana, khususnya dalam acara perayaan agama Islam. Angklung dan dog-dog digunakan juga untuk mengiringi pementasan drama topeng rakyat sebelum pertunjukan itu menggunakan seperangkat kecil gamelan siendro sebagai iringan pentasnya.-
http://www.jakarta.go.id/
Lomba Plintheng dan Dakon dalam Olimpiade Bocah Jawa
Jogjanews-com - Memperingati Hari Anak Nasional 2012, SKH Kedaulatan Rakyat akan mengelar Olimpiade Bocah Jawa pada Minggu tanggal 23 September 2012 di Pusat Kebudayaan Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Dalam Olimpiade Bocah Jawa ini akan diselenggarakan berbagai perlombaan tradisional Jawa seperti 'nekeran',dakonan, lompat karet, egrang dan plinthengan (ketapel).
Layaknya olimpiade olahraga, peserta juga akan dibagi menjadi beberapa kategori, seperti kategori Kesatria Cilik untuk anak laki-laki usia SD, serta Srikandi Cilik untuk anak perempuan usia SD.
Selain dua katergori itu, ada pula lomba untuk anak usia taman kanak-kanak yang iisi dengan kegiatan lomba mewarnai. Selain lomba di atas juga ada lomba umum untuk anak-anak yaitu marching band, karnaval anak dan ajang bakat anak.
Kegiatan untuk anak usia TK akan dimulai pukul 06.30 WIB. Untuk usia SD dimulai pukul 09.00 WIB,” terang panitia acara seperti yang termuat dalam rilis yang diterima redaksi.
Panitia menerangkan untuk lomba plintheng, egrang, dan nekeran anak diikuti oleh kategori Kesatria Cilik, sementara untuk 'dakonan', 'engklek' dan 'lompat karet' akan diikuti oleh kategori srikandi cilik. Untuk menambah semangat peserta dalam berkompetisi dengan kreatif, panitia juga menyediakan hadiah dengan total Rp 20 juta.
“Dengan acara ini diharap anak-anak Yogyakarta dapat mengenal permainan tradisionalnya dan memberikan ruang berekspresi dan berkreasi bagi anak-anak,” harap Aditya Samawi selaku Ketua Pelaksana Olimpiade Bocah Jawa
Yo Main Engklek !
Permainan ini mempunyai banyak nama atau istilah lain. Ada yang menyebutnya teklek ciplak gunung, demprak dan masih banyak lagi. Istilah yang disebutkan memang beragam, tetapi permainan yang dimainkan tetap sama. Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi dengan nama yang berbeda – beda tentunya. Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari '' zondag-maandag '' yang berasal dari Belanda dan menyebar ke nusantara pada jaman kolonial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.
Cara bermainanya sederhana saja, cukup melompat menggunakan satu kaki disetiap petak - petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah. Untuk dapat bermain setiap anak harus mempunyai kereweng atau gacuk yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai atau pun batu yang datar. Kreweng/gacuk dilempar kesalah satu petak yang tergambar di tanah, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak – petak yang ada. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah disediakan jika melebihi maka dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan gacuk dengan cara membelakangi engkleknya, jika pas pada petak yang dikehendaki maka petak itu akan menjadi “sawah”nya, artinya dipetak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak tersebut dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki “sawah” paling banyak adalah pemenangnya. Pemainan ini sangat seru karena bisanya paling sering kesalahan yang dilakukan adalah saat kita melempar gacuk tapi tidak pas dikotaknya atau meleset dari tempatnya.
Manfaat yang diperoleh dari permainan engklek ini adalah:
1. Kemampuan fisik anak menjadi kuat karena dalam permainan engklek anak di haruskan untuk melompat – lompat.
2. Mengasah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan.
3. Dapat menaati aturan – aturan permainan yang telah disepakati bersama.
4. Mengembangkan kecerdasan logika anak. Permainan engklek melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya
5. Anak menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.
Dan dibawah ini videonya :
Kampung Dolanan Yogyakarta, Lestarikan Permainan Anak Tradisional
Wayang dan payung kertas, kelontongan, othok-othok masih bisa ditemui di Kampung Dolanan ini.
Bila saat ini anak-anak di kota besar gencar mencari gadget terbaru seperti playstationdan game internet, masyarakat di Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, justru gencar mengembangkan permainan tradisional anak. Bahkan mereka pun menyebut dirinya sebagai kampung dolanan (mainan) anak.
Ketika kita mendatangi kampung dolanan anak, permainan tradisional seperti wayang dan payung kertas, kelontongan, othok-othok, masih bisa kita temui. Uniknya, permainan tradisional di Dusun Pandes ini dibuat hanya oleh ibu-ibu desa berumur lebih dari 80 tahun yang jumlahnya sekitar tujuh orang.
Mbah Karto Utomo (100 tahun), salah satunya. Meski terlihat renta dan sudah mengalami gangguan pendengaran, wanita ini masih semangat membuat dolanan anak. “Kalau saya belum meninggal, saya tetap akan membuat permainan anak tradisional ini,” ujar Mbah Karto, di rumahnya, Kamis (3/5).
Mbah Karto mengaku menekuni dunia ini sejak umur sepuluh tahun. Tak henti-hentinya ia mencari bentuk permainan tradisional anak yang menarik. Bahkan, 90 karakter wayang dari kardus bekas pun bisa ia gambar dengan cepat tanpa membuat pola terlebih dahulu. Ia juga bercerita, sewaktu muda, ia sering menjual hasil karyanya tersebut ke luar daerah Yogyakarta.
Sayangnya, permainan anak tradisional sudah mulai tergerus dengan maraknya permainan modern. Hal ini dikemukakan oleh Koordinator Komunitas Pojok Budaya, Wahyudi Anggoro Hadi, yang menggagas program pelestarian permainan anak tradisional Kampung Dolanan.
Diceritakan oleh Wahyudi, terbentuknya Kampung Dolanan ini berasal dari Nyai Sompok yang merupakan keturunan Majapahit. Kedatangan Nyai Sompok di dusun Pandes lantas menyebarkan ketrampilan membuat permainan anak.
Hingga tahun 1980-an, hampir ratusan penduduk menekuni profesi ini. Terbukti, hasil kerajinan banyak dijual ke luar daerah Yogyakarta seperti Kebumen, Semarang, Klaten. Namun, pada tahun 1980-an,Kampung Dolanan menjadi sepi karena banjirnya permainan modern.
Munculah Komunitas Pojok Budaya dii tahun 2008. Komunitas ini pula yang mendirikan sekolah khusus pengajaran ketrampilan pembuatan permainan tradisional. Bahkan sekolah ini akhirnya menjadi tujuan wisata edukasi yang popular di Yogyakarta.
“Sepuluh tahun atau lebih, permainan anak tradisional akan punah. Kalau tidak diselamatkan, maka nilai-nilai yang terkandung di dalamya tidak akan bisa dikenang," kata Wahyudi.
Di dalam permainan tradisional terdapat nilai kemandirian, peduli lingkungan, kerjasama, dan kesadaran geografis. Namun, penjualan permainan ini makin lama semakin sulit. Untuk itu, pihak Wahyudi melakukan re-design permainan anak tradisional menjadi sebuah souvenir bagi pengunjung.
Bermain Kelereng
Jika mendengar
kata“kelereng” tentunya sebagian besar kawan kawan pasti sudah tidak asing lagi. Seperti yang kita ketahui kelerengmerupakan mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Pada umumnyakelereng digunakan sebagai permainan anak-anak, dan kadang dikoleksi untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.
Kelereng sendiri mempunyai sejarah yang unik. Tau nggak, jauh pada peradaban Mesir kuno, tahun 3000 SM, kelereng terbuat dari batu atau tanah liat. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa.Pada masa Rowami, permainan Kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal. Saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan. Salah seorang penggemar kelerengadalah Octavian, kelak menjadi Kaisar Agustus. Layaknya permainan, di Romawi saat itu juga mempunyai aturan-aturan resmi. Peraturan tersebut menjadi dasar permainan sekarang.
Teknologi pembuatan kelereng kaca ditemukan pada 1864 di Jerman.Kelerang yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni mirip permen. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Namun, akibat Perang Dunia II, pengiriman mesin pembuat kelereng itu sempat terhenti dan akhirnya masing-masing negara mengembangkannya sendiri.
Mau tau cara bermainnya ??
Kawan kawan, cara bermain kelereng sangat mudah, yang pertama gambar lingkaran 2 sampai 3 kaki lebarnya, dengan menggunakan kapur di aspal atau beton, atau dengan mengunakan tongkat di tanah, atau sting pada karpet atau ubin.
Kedua, kawan kawan dapat menempatkan kelereng yang akan anda mainkan dan memilih target yang hendak anda tembak dalam lingkaran tersebut. Para pemain lain juga akan melakukun hal yang sama. Tembakan anda harus besar sehingga terlihat berbeda dengan kelereng yang lainnya sehingga anda dapat menembak mereka dengan mudah.
Ketiga, ambil giliran anda ketika saatnya tiba dengan menembakkankelereng dari luar lingkaran ke kelereng yang di dalam lingkaran tersebut. Tembak dengan berlutut di tanah dan membolakan kelerenganda keluar dari kepalan tangan anda dengan ibu jari anda.
Keempat, kumpulkan kelereng yang telah tradiers lempar dari lingkaran.
Kelima, tembak lagi jika tradiers berhasil mengetuk setiap kelerengkeluar dari lingkaran. Biarkan pemain lainnya menembak jika tradiers belum mengetuk kelereng apapun atau kelereng anda tetap dalam lingkaran.
Keenam, lanjutkan menembak pada saat gilirannya sampai lingkaran kosong.
Ketujuh, hitung jumlah kelereng di akhir pertandingan. Pemenangnya adalah pemain yang memiliki kelereng paling banyak.
kata“kelereng” tentunya sebagian besar kawan kawan pasti sudah tidak asing lagi. Seperti yang kita ketahui kelerengmerupakan mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Pada umumnyakelereng digunakan sebagai permainan anak-anak, dan kadang dikoleksi untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.
Kelereng sendiri mempunyai sejarah yang unik. Tau nggak, jauh pada peradaban Mesir kuno, tahun 3000 SM, kelereng terbuat dari batu atau tanah liat. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa.Pada masa Rowami, permainan Kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal. Saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan. Salah seorang penggemar kelerengadalah Octavian, kelak menjadi Kaisar Agustus. Layaknya permainan, di Romawi saat itu juga mempunyai aturan-aturan resmi. Peraturan tersebut menjadi dasar permainan sekarang.
Teknologi pembuatan kelereng kaca ditemukan pada 1864 di Jerman.Kelerang yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni mirip permen. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Namun, akibat Perang Dunia II, pengiriman mesin pembuat kelereng itu sempat terhenti dan akhirnya masing-masing negara mengembangkannya sendiri.
Mau tau cara bermainnya ??
Kawan kawan, cara bermain kelereng sangat mudah, yang pertama gambar lingkaran 2 sampai 3 kaki lebarnya, dengan menggunakan kapur di aspal atau beton, atau dengan mengunakan tongkat di tanah, atau sting pada karpet atau ubin.
Kedua, kawan kawan dapat menempatkan kelereng yang akan anda mainkan dan memilih target yang hendak anda tembak dalam lingkaran tersebut. Para pemain lain juga akan melakukun hal yang sama. Tembakan anda harus besar sehingga terlihat berbeda dengan kelereng yang lainnya sehingga anda dapat menembak mereka dengan mudah.
Ketiga, ambil giliran anda ketika saatnya tiba dengan menembakkankelereng dari luar lingkaran ke kelereng yang di dalam lingkaran tersebut. Tembak dengan berlutut di tanah dan membolakan kelerenganda keluar dari kepalan tangan anda dengan ibu jari anda.
Keempat, kumpulkan kelereng yang telah tradiers lempar dari lingkaran.
Kelima, tembak lagi jika tradiers berhasil mengetuk setiap kelerengkeluar dari lingkaran. Biarkan pemain lainnya menembak jika tradiers belum mengetuk kelereng apapun atau kelereng anda tetap dalam lingkaran.
Keenam, lanjutkan menembak pada saat gilirannya sampai lingkaran kosong.
Ketujuh, hitung jumlah kelereng di akhir pertandingan. Pemenangnya adalah pemain yang memiliki kelereng paling banyak.
Permainan Gobak Sodor
Kawan kawan permainan ini juga
merupakan salah satu dari sekian banyak permainan tradisional yang dimainkan
oleh anak-anak era 1990an. Bahkan termasuk oleh anak-anak di masa sebelumnya.
Dan hari ini, permainan ini sepertinya sudah langka dijumpai di perkotaan.
Bahkan di desa dan kampong pun mulai langka.
Permainan gobak sodor adalah
jenis permainan yang harus dimainkan secara berkelompok oleh banyak orang.
Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok yang saling berlawanan (bermusuhan),
di mana masing-masing tim terdiri dari 3 – 5 orang.
Inti permainannya adalah
menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara
bolak-balik. Untuk meraih kemenangan seluruh anggota kelompok harus secara
lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya
dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa
juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi
menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan
kapur.
Anggota kelompok yang mendapat
giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota kelompok yang
menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota kelompok
yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan
berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis
batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota kelompok
yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu
orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal
yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus
sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat
mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.
Gasing
Gasing / Gangsing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik.
Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain
merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa.
Sebagian
besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering
dibuat dari plastik,
atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan
gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali
gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda
bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
Gasing dari Jepang
Gerakan
gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing
biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian
kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar
tegak untuk sementara waktu, momentum
sudut dan efek
giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh
secara kasar ke permukaan tanah.
Gasing di berbagai negara
Indonesia
Gasing
merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah
penyebarannya belum diketahui secara pasti.
Di
wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan
Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda.
Sedangkan di Sulawesi
Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan
oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang
kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara
perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut
kebiasaan di daerah masing-masing.
Hingga
kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia.
Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing
dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat
perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.
Beragam nama gasing
Sejumlah
daerah memiliki istilah berbeda untuk menyebut gasing. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing ataupanggal. Masyarakat Lampung menamaninya pukang, warga Kalimantan Timur
menyebutnya begasing, sedangkan
di Maluku disebutApiong dan di
Nusatenggara Barat dinamai Maggasing.
Hanya masyarakat Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan Kepulauan
Riau yang menyebut gasing. Nama maggasing atau aggasing juga dikenal masyarakat Bugis di Sulawesi
Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang
Mongondow di daerah Sulawesi
Utara mengenal gasing
dengan nama Paki. Orang Jawa Timur menyebut gasing sebagai kekehan. Sedangkan di Yogyakarta,
gasing disebut dengan dua nama berbeda. Jika terbuat dari bambu disebut gangsingan, dan jika terbuat dari kayu
dinamai pathon.
Bentuk gasing
Gasing
memiliki beragam bentuk, tergantung daerahnya. Ada yang bulat lonjong, ada yang
berbentuk seperti jantung, kerucut, silinder, juga ada yang berbentuk seperti
piring terbang. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki
(paksi). Namun, bentuk, ukuran danbgain gasing, berbeda-beda menurut daerah
masing-masing.
Gasing
di Ambon (apiong) memiliki kepala dan leher.
Namun umumnya, gasing di Jakarta dan Jawa Barat hanya memiliki bagian kepala
dan paksi yang tampak jelas, terbuat dari paku atau logam. Sementara paksi
gasing natuna, tidak nampak.
Jenis gasing
Gasing
dapat dibedakan menjadi gasing adu bunyi, adu putar dan adu pukul
Permainan gasing
Cara
memainkan gasing, tidaklah sulit. Yang penting, pemain gasing tidak boleh
ragu-ragu saat melempar gasing ke tanah.
Cara:
Gasing
di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali.
Lilitkan
tali pada gasing, mulai dari bagian paksi sampai bagian badan gasing. lilit
kuat sambil berputar.
Gasing Modern.
Ada dua nama lain “Gasing” yang dipakai oleh pabrik pembuatnya yaitu “Hybrid wheel” dan ” Beyblade”. Perbedaannya pada alat penggerak. Secara rinci penjual tidak bisa menjelaskan lebih detail. Bahan yang digunakan semua dari plastik yang dibuat sangat menarik dan mudah dimainkan. Alat pemutarnya berupa seutas plastik bergerigi panjangnya hanya sejengkal lebih sedikit kira-kira 20 -25 cm. Maka tidak heran permainan ini digandrungi anak-anak. Perhatikan gambar berikut ini bagaimana antusiasnya anak-anak memainkannya di suatu Mall di Surabaya. Suasana ini terekam pada hari Minggu tanggal 6 Februari 2011 di Mall Tunjungan Surabaya.
Gasing Modern.
Ngomong ngomong tentang
gasing, Cina memang negara hebat berbagai produk inovasi diciptakan atau
ditiru dengan kemasan indah bernilai jual. Salah satu bentuk produk
inovasi dibidang permainan mungkin belum banyak diketahui anak-anak Indonesia
pada umumnya, yaitu” gasing” dalam wujudnya yang baru . Permainan yang tadinya
agak sulit dimainkan menjadi sangat mudah. Bagaimana bentuknya? Coba amati yang
ada di suatu Mall di Surabaya.
Nama baru
Nama baru
Ada dua nama lain “Gasing” yang dipakai oleh pabrik pembuatnya yaitu “Hybrid wheel” dan ” Beyblade”. Perbedaannya pada alat penggerak. Secara rinci penjual tidak bisa menjelaskan lebih detail. Bahan yang digunakan semua dari plastik yang dibuat sangat menarik dan mudah dimainkan. Alat pemutarnya berupa seutas plastik bergerigi panjangnya hanya sejengkal lebih sedikit kira-kira 20 -25 cm. Maka tidak heran permainan ini digandrungi anak-anak. Perhatikan gambar berikut ini bagaimana antusiasnya anak-anak memainkannya di suatu Mall di Surabaya. Suasana ini terekam pada hari Minggu tanggal 6 Februari 2011 di Mall Tunjungan Surabaya.
(arya8/kompasiana)
Permainan Anak Tradisional Di Yogyakarta Dan Sekitarnya
JARANAN
Jaranan bukan permainan kompetitif. Anak-anak membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang dan berimajinasi menirukan para bangsawan tempo dulu yang berkeliling kampung menunggang kuda besar dan gagah. Sambil bermain, mereka menyanyikan lagu jaranan.
Lirik lagunya seperti ini:
BENTHIK
Benthik membutuhkan alat berupa dua patahan ranting panjang dan pendek. Ranting panjang sebagai pemukul. Pada intinya, benthik memperagakan ketrampilan memainkan ranting kecil dengan memukul dan mengarahkan agar tidak tetangkap oleh lawan.
BEKELAN (BAL BEKEL)
Bekelan mengadu kecepatan menangkap bola dan mengatur bekel. Setiap kali pemain melemparkan bola keatas, sebelum bola ditangkapnya kembali, ia harus mengambil dan mengatur bekel yang lain sesuai urutan permainan. Jika bola jatuh ia kalah.
JAMURAN
Jamuran biasa dimainkan lebih dari tiga orang anak, sebenarnya merupakan sarana bernyanyi dan begembira bersama. Diakhir lagu, para pemain akan membuat sebuah jebakan untuk menangkap salah satu peserta yang bertugas untuk menjadi "pelaku" dalam lagu berikutnya.
Lirik lagunya adalah sebagai berikut:
Jamuran ya ge ge thok
Engklek mengkombinasikan ketepatan melempar pecahan genteng kedalam kotak-kotak dan kemampuan menjaga keseimbangan, karena saat melewati kotak-kotak yang sudah dibuat, setiap pemain harus melompat-lompat dengan satu kaki diangkat, dan tidak boleh menyentuh garis.
LAYANGAN
Layangan ideal dimainkan di tanah lapang saat musim kemarau dengan angin kencang. Layang-layang yang diterbangkan, bebas diserang lawan dengan cara mengadu tali layang-layang yang telah diberi bubuk pecahan kaca atau benang gelasan. Siapa mampu memutuskan benang lawan dinyatakan menang.
GRAPYAK
Grapyak mengadu keseimbangan dan kekompakan tim. Setiap kelompok biasanya terdiri dari tiga orang anak mengenakan sandal tandem terbuat dari kayu.
Pemenangnya adalah kelompok yang tidak terjatuh dan tercepat mencapai garis akhir.
Jaranan bukan permainan kompetitif. Anak-anak membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang dan berimajinasi menirukan para bangsawan tempo dulu yang berkeliling kampung menunggang kuda besar dan gagah. Sambil bermain, mereka menyanyikan lagu jaranan.
Lirik lagunya seperti ini:
Jaranan jaranan jarane jaran Teji
Sing numpak Mas Ngabehi, sing ngiring para abdi
Jrek jrek nong, jrek jrek gung jrek ejrek turut lurung
Gedebuk krincing gedebuk krincing thok thok gedebuk jedher
Gedebuk krincing gedebuk krincing thok thok gedebuk jedher
Sing numpak Mas Ngabehi, sing ngiring para abdi
Jrek jrek nong, jrek jrek gung jrek ejrek turut lurung
Gedebuk krincing gedebuk krincing thok thok gedebuk jedher
Gedebuk krincing gedebuk krincing thok thok gedebuk jedher
BENTHIK
Benthik membutuhkan alat berupa dua patahan ranting panjang dan pendek. Ranting panjang sebagai pemukul. Pada intinya, benthik memperagakan ketrampilan memainkan ranting kecil dengan memukul dan mengarahkan agar tidak tetangkap oleh lawan.
BEKELAN (BAL BEKEL)
Bekelan mengadu kecepatan menangkap bola dan mengatur bekel. Setiap kali pemain melemparkan bola keatas, sebelum bola ditangkapnya kembali, ia harus mengambil dan mengatur bekel yang lain sesuai urutan permainan. Jika bola jatuh ia kalah.
JAMURAN
Jamuran biasa dimainkan lebih dari tiga orang anak, sebenarnya merupakan sarana bernyanyi dan begembira bersama. Diakhir lagu, para pemain akan membuat sebuah jebakan untuk menangkap salah satu peserta yang bertugas untuk menjadi "pelaku" dalam lagu berikutnya.
Lirik lagunya adalah sebagai berikut:
Jamuran ya ge ge thok
Jamur apa ya ge ge thok
Jamur gajih mberjijih sak ara-ara
Semprat-semprit Jamur apa
ENGKLEK
Engklek mengkombinasikan ketepatan melempar pecahan genteng kedalam kotak-kotak dan kemampuan menjaga keseimbangan, karena saat melewati kotak-kotak yang sudah dibuat, setiap pemain harus melompat-lompat dengan satu kaki diangkat, dan tidak boleh menyentuh garis.
LAYANGAN
Layangan ideal dimainkan di tanah lapang saat musim kemarau dengan angin kencang. Layang-layang yang diterbangkan, bebas diserang lawan dengan cara mengadu tali layang-layang yang telah diberi bubuk pecahan kaca atau benang gelasan. Siapa mampu memutuskan benang lawan dinyatakan menang.
GRAPYAK
Grapyak mengadu keseimbangan dan kekompakan tim. Setiap kelompok biasanya terdiri dari tiga orang anak mengenakan sandal tandem terbuat dari kayu.
Pemenangnya adalah kelompok yang tidak terjatuh dan tercepat mencapai garis akhir.
Langganan:
Postingan (Atom)

































