.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

Namaku Afu, Saya Tiong Hoa & Saya Muslim!

Saya seorang berketurunan Tiong Hoa, sebut saja Afu (bukan nama sebenarnya). Lahir pada tahun 1977 di Makassar, tepatnya di jalan Buru kecamatan Wajo. Kemudian selalu berpindah-pindah, walaupun masih juga di daerah Makasar. Kami 7 bersaudara dengan saya sebagai anak kelima, satu-satunya anak laki-laki.

Orang tua saya mengikuti aliran Konghucu. Keadaan saya persis seperti yang beliau Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam sabdakan yang artinya, "Setiap anak lahir di atas fitrahnya, tetapi dua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.". (HR. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Masa kecil saya hampir seharian terisi dengan kegiatan bermain di luar rumah. Hal ini disebabkan kesibukan bapak menjahit dan ibu jaga toko, mereka pun bukan dari keluarga yang memerhatikan pendidikan. Adapun teman-teman, ada yang dari keluarga muslim dan mayoritas dari keluarga non muslim.

Memasuki umur 6 tahun, saya disekolahkan di SDN Irian, Makassar. Untuk pelajaran agama, saya mengikuti ajaran agama Budha sebagaimana orang-orang keturunan cina lainnya. Karena dahulu Konghucu tidak diakui sebagai agama di Indonesia. Sebab lain, karena keserupaan antara dua kepercayaan ini.

Saat kelas 5 SD kami pindah ke jalan Sibula Dalam, kecamatan Bontoala. Lingkungan itu mayoritas muslim, namun masih perlu banyak perbaikan dalam amalan keislaman. Setelah tamat dari SD, saya masuk ke SMP Hang Tuah. Ini merupakan kepindahan yang kesekian kaki, walau begitu, saya masih di jalan yang sama. Di Hang Tuah, karena bidang studi agama yang tersedia hanya Islam dan Nasrani, maka saya memilih mengikuti pelajaran agama Nasrani. Supaya tetap mendapatkan nilai, juga karena tidak adanya pengingkaran berarti dari pendeta terhadap aliran orang tua saya.

Selama tinggal di jalan Sibula Dalam, saya lebih banyak bergaul dengan anak-anak muslim. Apalagi di usia SMP. Namun, mereka masih jauh dari nilai-nilai keislaman; jarang shalat, terbiasa berjudi, minum minuman keras, dan senang berkelahi. Bahkan mereka pernah mencuri ayam saya, teman mereka sendiri, walaupun setelahnya mereka tetap membayarnya.

Awal Hidayah

Di usia remaja ini, pergaulan saya boleh dikatakan dengan anak-anak. Namun, Alhamdulillah, saya dikenal oleh teman-teman sebagai seorang yang polos lagi sangat jujur. Tidak pernah terlibat dengan kenakalan yang mereka lakukan.

Base camp kami di sebuah tempat pencucian mobil berjarak 5 rumah dari rumah saya. Tempat pencucian mobil ini sekaligus menjadi lahan mendapatkan kebutuhan hidup teman-teman. Pencucian mobil ini milik seorang bapak haji yang selalu shalat di awal waktu. Secara khusus setelah Zhuhur, beliau menyempatkan duduk mendengarkan siaran radio ceramah salah seorang dai kondang yang baru populer saat itu.

Semuanya berjalan tanpa sengaja, kejadian ini memberi bias pada jiwa saya. Bias cahaya itu pun semakin membesar. Saya mulai sering mencari gelombang siaran dakwah lewat radio itu dan mendengarnya di rumah. Bapak-ibu setengah heran dengan perbuatan saya ini. Tapi mereka tidak menanggapi dengan serhus. Karena bagi mereka hal itu tidak mengapa, asalkan tidak masuk Islam saja.

Tidak lama waktu berlalu, secara diam-diam saya mempelajari Islam lewat buku. Saya juga sering memerhatikan salah satu pesantren yang tidak jauh dari tempat kami.

Di kelas III SMP menjelang EBTANAS, Allah memudahkan lisanku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya mengucapkannya di kamar yang hanya Dia-lah yang menjadi saksinya. Kemudian untuk formalnya, saya mendatangi rumah pimpinan pesantren tersebut. Kepada pimpinan pesantren itu saya meminta dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. Kyai takjub dengan usiaku yang baru 14 tahun berani mengambil keputusan sendiri.

Setelah menanyakan beberapa hal kepadaku, beliau pun menuntunku mengucapkan kalimat kunci keislaman. Lalu beliau membuatkan surat pernyataan masuk Islam. Sebagai saksi adalah salah seorang guru di pesantren tersebut. Maka, seiring berbaliknya keadaanku dari agama kafir kepada keimanan, pemimpin pesantren tersebut memberikan nama Islami kepadaku.

Kisahku Mengerjakan Shalat

Sebagaimana yang lalu saya ceritakan, bahwa sebelum datang ke pimpinan salah satu pondok pesantren di Makassar tersebut, saya telah mengucapkan dua kalimat syahadat sendiri. Dengan Allah al-Ahad (Yang Maha Esa) sebagai saksinya. Ini saya lakukan dengan membaca lafal latin syahadatain dari buku tuntunan shalat. Buku itu saya sembunyikan dalam lemari di antara pakaianku.

Secara sembunyi-sembunyi, saya senantiasa menelaah buku tersebut. Sampai saya mengetahui hukum shalat lima waktu adalah wajib. Berpahala bagi yang melakukannya, berdosa dan mengundang murka Allah atas siapa yang meninggalkannya. Shalat mempunyai syarat sah, rukun, wajib dan sunnah. Saya pun mengetahui melalui melihat kebiasaan kaum muslimin, juga melalui buku ini, bahwa sebelum shalat kita diwajibkan berwudhu. Bahwa wudhu sebagai syarat sah shalat, demikian pula wajib sucinya pakaian dan tempat sebagai syarat sah shalat.

Waktu shalat tiba, saya berwudhu di rumah orang tua tanpa sepengetahuan mereka. Di rumah, saya sangat menjaga diri dari najis, khususnya bekas-bekas babi yang merupakan makanan istimewa orang tua, yang tiada pekan tanpa makan babi. Setelah berwudhu, saya masuk kamar kakak, sebab saya sendiri tidak punya kamar khusus. Saya menguncinya lalu mengerjakan shalat. Sesekali saya membaca bacaan shalat dengan tulisan latin dari bahasa Arabnya, namun lebih sering saya gunakan bahasa Indonesia, membaca terjemahan yang ada di bawah bacaan Arabnya.

Diganggu Jin

Hal yang baru pertama kali menjadi pengalaman hidup saya, saat saya sedang shalat dalam kamar, badan saya dibelokkan dari arah kiblat. Hal itu terjadi di semua posisi shalat selain rukuk dan sujud. Ketika saya berusaha mengembalikan ke posisi yang benar, tulang dalam tubuh terasa sakit. Semakin saya berusaha untuk mengembalikan ke arah kiblat, semakin sakit. Padahal, saya mengetahui bahwa di antara syarat sah shalat harus menghadap kiblat. Mendapatkan keadaan seperti itu, saya selalu mengulangi shalat. Anggapan saya, shalat tidak sah sebab tidak menghadap kiblat saat berdiri baca al-Fatihah (terjemahan), i'tidal, duduk di antara dua sujud, maupun tasyahhud.

Terus saya ulangi, sampai saya berkeyakinan bahwasanya Allah Maha Pemurah, tidak akan membebaniku lebih dari kemampuanku. Sejak saat itu, jikalau dalam shalat terjadi hal yang sama, saya tidak pedulikan dan tetap meneruskan shalat. Walaupun seringkali dalam posisi tasyahhud badan berputar sampai 180 derajat. Keadaan ini tidak saya ceritakan kepada siapa pun karena khawatir ketahuan masuk Islam.

Beberapa hari kemudian, ketika berkumpul dengan teman-teman, seringkali tiba-tiba saya menjadi pincang dalam berjalan. Terutama menjelang Maghrib, lalu normal kembali. Ketika saya sampaikan kepada seseorang yang saya harapkan bisa mengobati, malah leher saya dipermainkan oleh jin. Keadaan ini saya alami dua pekan sampai akhirnya berlalu dengan seizin Allah.

Awal Terlihat Shalat Oleh Orang Lain

Dari buku yang sama, saya mengetahui bahwa hukum shalat Jum'at adalah fardhu 'ain. Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengancam akan mengunci hati siapa yang meninggalkannya. Ini berarti orang lain akan tahu kalau saya mengerjakan shalat. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa harus mengambil resiko dibandingkan celaka di kehidupan yang kekal nanti. Sebisa mungkin saya memilih teman yang nampak taat melakukan shalat Jum'at. Namun sesuai takdir Allah, hal ini sangat mudah ketahuan. Karena teman ini membawa sajadah membonceng saya dengan motornya. Akhirnya pembicaraan dari mulut ke mulut mulai tersebar.

Ketahuan Orang Tua

Seiring perjalanan waktu, sesuai dengan takdir Allah, tanpa saya sadari ternyata orang tua sudah mulai curiga. Mereka selalu mengawasi, hingga akhirnya menangkap basah saya sedang shalat. Dengan memanjat, mereka mengintip dari lobang angin kamar, kemudian meneriakiku.

Mulai saat itulah masa-masa pertikaian saya dengan keluarga. Setelah sempat beberapa hari meninggalkan rumah, akhirnya orang tua menyuruh saya pulang. Namun, keadaan di rumah yang sulit menghindari najis, membuat saya sangat berat. Saya pun memilih lebih banyak di masjid.

Mendapatkan Kawan di Masjid

Selama 1 tahun, saya makan, minum, dan tidur tanpa menentu. Sesuai dengan rencana Allah, saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik di masjid. Ada seorang kawan yang sempat mengajariku Iqra' kira-kira 3 hari. Ada pula dua orang kawan yang sering bermalam di masjid bersamaku.

Was-was Akibat Ketidakfahaman

Dari membaca, saya mengerti tentang pentingnya niat dalam shalat. Bahwa niat adalah rukun shalat, bentuknya kalimat yang dilafalkan dalam qalbu. Karena was-was dalam niat, seringkali saya mengulangi takbiratul ihram sampai dalam jumlah yang tidak terhitung lagi. Baik ketika shalat sendiri ataupun di tengah jama'ah di masjid. Parahnya, beberapa shalat, dari awal waktu sampai masuk waktu shalat berikutnya, saya terus mengulang-ulang takbiratul ihram. Keadaan seperti ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Rara takut yang begitu ekstrim terhadap kesalahan qalbu dalam melafalkan niat, menyebabkan was-was dan keraguan yang begitu besar dalam qalbuku. Saya selalu ragu apakah lafalnya sudah sempurna atau belum. Saya takut rukun niat ini tidak terpenuhi, yang berakibat tidak sahnya shalat, dan akhirnya menjadi petaka di akhirat.

Was-was senantiasa membisikkan bahwa kebenaran niat diragukan. Kemudian bisikan ragu apakah melanjutkan shalat atau mengulangi takbiratul ihram. Selanjutnya, keraguan ini digambarkan kepadaku sebagai keinginan untuk membatalkan shalat dengan mengulanginya. Sedangkan telah diketahui bahwa niat membatalkan shalat termasuk pembatal shalat.

Was-was ini telah membawaku kepada kebodohan yang sangat memalukan. Akhirnya Allah menyelamatkanku dari was-was ini. Di antaranya dengan pengetahuan bahwasanya niat itu bukanlah berbentul lafal layaknya kalimat yang diucapkan oleh lisan.

Perkembangan Keilmuan Islamku

Sudah kusebutkan bahwa saya masuk Islam menjelang EBTANAS SMP. Di masa libur panjang itu saya belajar Iqra' hanya sekitar 1 minggu bersama dua guru.

Ketika tiba masa pendaftaran sekolah, Allah mentakdirkan saya bertemu dengan bagian tata usaha pesantren. Beliau menyuruhku mendaftar tanpa biaya pendaftaran maupun SPP.

Ringkasnya, saya masuk tingkat 'aliyah. Masa awal yang membuat saya setiap hari terliputi rasa malu. Hal ini disebabkan bacaan Al-Qur'an saya yang masih terputus-putus. Sedangkan di pesantren sangat banyak pelajaran yang menggunakam bahasa Arab. Sehingga jangankan kemampuan membaca Al-Qur'an, bahasa Arab pun seharusnya sudah bisa, minimalnya mengenal dasarnya.

Saya pun belajar Al Qur'an sendiri. Sampai akhirnya bisa dan menghafal Al Qur'an. Pengalaman yang begitu indah, ketika Allah memberi saya kesempatan menghafal juz I hanya dalam 3 hari, juz II dalam 4 hari dengan hafalan yang matang. Lalu semakin bertambah hafalan semakin membutuhkan waktu yang panjang demi me-muraja'ah (mengulang) yang sudah terhafal agar tetap terjaga.

Akhir semester pertama di Madrasah 'Aliyah tiba. Hasil ujian semester keluar dengan saya mendapatkan peringkat 2 dari belakang (23 dari 24 siswa). Namun, Alhamdulillah, Allah senantiasa membimbingku. Pada semester II saya mendapatkan peringkat 18 dari 24 siswa.

Di kelas 2 'aliyah, sesuai takdir Allah, di jalan setapak masjid tempat kegiatan belajar mengajar pesantren, saya bertemu dengan pimpinan pesantren. Beliau menanyakan makan, minum, dan tidurku. Setelah mengetahui keadaanku, beliau menyuruhku tinggal di rumahnya. Saya pun tinggal di rumah beliau sekitar 4 tahun. Jasa sangat besar yang tidak sanggup saya balas, hanya Allah yang kuasa membalasnya. Semoga Allah membalasi kebajikan beliau dengan sempurna.

Saya kembali, di kelas 2 aliyah, semester I saya di peringkat 12 dari 24 siswa. Semester II di peringkat 8. Prestasi belajarku terus menanjak. Sampai ada santri yang mengaku, bahwa dirinya ditugaskan salah seorang guru untuk memantau saya dalam ujian. Apakah saya nyontek buku. Tapi katanya ternyata tidak, karena memang itu tidak terjadi. Naik kelas 3 aliyah, semester I saya mendapatkan peringkat 5, di semester terakhir mendapatkan peringkat 2.

Tahun 1995, saya selesai dari pesantren dengan ijazah MAN. Saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar. Hal ini atas saran seorang pembimbing yang sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Satu tahun kuliah di fakultas Tafsir-Hadits, kemudian saya ikut tes untuk mendapatkan beasiswa Universitas Al Azhar Kairo tahun 1996. Untuk wilayah propinsi Sulsel, tes diadakan di IAIN Alauddin Makassar dengan jumlah peserta 80 orang.

Ringkasnya, setelah berlalu beberapa lama, saya mendapatkan info bahwa pengumuman hasil tes sudah keluar. Saya berangkat ke IAIN, masuk ke ruang tata usaha, dan bertanya, "Hasil tes sudah keluar?" Katanya, "Siapa namamu?" Jawab saya, "Afu." Kata dia, "Yang benar? Kok tidak putih?!" Sambil mencandai. Akhirnya dia pun memberitahukan kelulusanku dengan nilai rata-rata 9,5 untuk 5 materi tes. Saya menduduki peringkat 1 di antara 10 orang yang dinyatakan lulus.

Berita ini jadi heboh sampai ke tingkat Kanwil, karena untuk pertama kalinya ada nama 'aneh' yang lulus, bahkan di urutan 1. Hatiku sangat senang Allah membukakan jalan untuk menuntut ilmu. Namun kemudian saya mendapatkan masalah besar karena status saya masih sebagai WNA (Warga Negara Asing). Saya tidak diberikan passport, walau segala usaha yang kira-kira mampu saya lakukan telah saya tempuh. Saya sangat sedih, tapi tidak berputus asa. Saya urus kewarganegaraan hingga akhirnya berhasil. Tetapi telah terlambat 1 minggu dari tutupnya pendaftaran di Kairo.

Atas kemudahan dari Allah, kemudian bantuan yang sangat besar dari ketua Yayasan UMI, semoga Allah merahmatinya. Di tahun 1997 saya diizinkan ikut rombongan mahasiswa utusan ke Kairo tanpa tes lagi.

Aktivitas Menuntut Ilmuku Selama di Mesir

Secara formal saya kuliah di fakultas Syari'ah Islamiyah. Sedangkan thalabul ilmi non formal, saya menimba ilmu dari masyayikh murid-murid dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Albani, maupun Syaikh Muqbil, semoga Allah merahmati mereka semua.

Kebiasaan saya, setelah muqarrar (diktat) yang ditentukan dosen setiap materi telah keluar, saya membelinya dan meringkas tidak lebih dari 10 halaman. Kemudian aktivitas lebih mengarahkan kepada materi-materi lain di luar mata pelajaran kuliah. Maka saat ujian tiba, saya tidak tegang sebagaimana teman-teman. Saya cukup menelaah kembali ringkasan yang dulu saya buat.

Alhamdulillah, setiap tahun saya naik ke tingkat selanjutnya. Di tingkat terakhir saya mengalami tashfiyah (remedial), yaitu harus mengulangi 2 materi. Disebabkan jawaban saya menyelisihi pendapat dosen. Tapi alhamdulillah ujian susulan bisa saya selesaikan dengan baik. Saya lulus dari S1 Al Azhar dengan nilai 'jayyid' pada tahun 2002.

Aktivitas Setelah Pulang ke Indonesia

Disebabkan kondisi, awal pulang dari Mesir saya sempat mengajar di beberapa tempat di Makassar dalam waktu yang hanya sebentar. Kemudian saya ke kampung istri di Jawa. Kegiatan harian mengajar di salah satu pondok pesantren Salafy selama 3 tahun. Alhamdulillah angkatan mereka saat ini telah menjadi para pengajar baik di pondok tersebut maupun tempat lainnya. Sambil mengajar di pondok pesantren dengan jadwal yang cukup padat, alhamdulillah Allah memudahkanku menerjemahkan sekitar 30 judul kitab berbahasa Arab yang diterbitkan oleh beberapa penerbit Salafiyyah.

Sekarang sudah lebih 4 tahun saya berada di sebuah daerah yang sangat membutuhkan praktisi dakwah. Selain aktivitas dakwah, berupa ceramah dan khutbah di masjid-masjid, saya membina sebuah yayasan. Yayasan yang memiliki kegiatan home schooling untuk setingkat TK, Tahfizhul Qur'an untuk remaja, dan Pengkaderan Dai untuk dewasa. Semuanya ini saya jalankan bersama keluarga tercinta. Saya dan istri bersama 4 anak tercinta. Di rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami yang sederhana dengan ukuran hanya 102 meter persegi.

Penutup

Alhamdulillah yang telah memberikan kita hidayah. Tanpa hidayah-Nya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Alhamdulillah yang semata dengan nikmat-Nya amal shalih bisa sempurna.

Saya berterima kasih kepada semua yang telah berjasa padaku, khususnya orang tua saya, para syaikh Ahlussunnah, dan semua yang berjasa, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Semoga Allah memberikan hidayah Islam untuk dua orang tuaku dan kaum kerabatku, yang hampir semuanya masih mempersekutukan Allah dengan aliran Konghucunya. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan para guruku, mengumpulkan kami di surga-Nya yang tertinggi bersama para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin. Semoga Allah merahmati kaum muslimin seluruhnya, dan mengangkat kembali kaum muslimin dari keterjatuhannya. Amin.

[ Admin blog: Beliau adalah al-Ust. Fuad Qawwam, Lc. Kisah ini juga bisa dibaca di blog beliau, www.fuadbatam.blogspot.com ]

Sumber: Majalah Qudwah edisi 01 vol. 01/1433 H/2012, hal. 88-91, judul asli: Kisah Secercah Hidayah di Dalam Qalbu.

0 komentar: