twitter
rss

Assalamu'alaikum Teman Teman !

Hai teman-teman muslim yang kebetulan membuka blog ini. Kami Delapan Bocah Muslim Bersaudara yang tinggal di Jogja dan Jakarta ingin bersilaturahim dengan teman-teman semua, mau kan ? 
Disamping itu kita sama-sama belajar tentang agama yang kita anut yaitu: ISLAM. Kita belajar dari sumber-sumber yang Insya' Allah sesuai Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam. 
Teman-teman, dan yang paling penting kita mecoba mengamalkan ilmu-ilmu yang kita dapat sedikit demi sedikit tetapi rutin. 
Semoga Allah Ta'ala memberikan ridhoNya pada kita semua. Amin.
Jazakumullah khairan katsiraa.

Wassalam.
salam kenal :
mas hammam-kakak fidelya-mas zaki-kakak nadine
mas rafi-mas faiq
-mas hakam
dan mas fachri





Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa. 

“Allahu Akbar!” suara lelaki itu mengawali shalatnya. 

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud.
Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do’a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah. 

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya. 

“Rupanya malam sudah larut...,” bisiknya. 

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya. 

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya. 

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah. 

“Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,” kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya. 

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu. 

“Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!” seru orang yang mendapat jatah makanan. 

“Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!” sambut yang lainnya. 

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan. 

“Sungguh! Kita terbebas dari kesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!” kata orang miskin ketika pagi tiba. 

“Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...,” timpal seorang temannya. 

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungannya. 

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya? 

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparan. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka. 

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa diduga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya! 

“Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...,” orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin. 

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. “Ayo cepat! Mana uangnya?!” gertak orang itu sambil mengacungkan pisau. 

“Aku...aku...,” Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali. 

“Siapa kau?!” tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu. 

“Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,” katanya ketakutan. 

“Kenapa kau merampokku?” Tanya Ali kemudian. 

“Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan,” sahutnya dengan wajah pucat. 

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus. 

“Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat...” 

“Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?” kata Ali. 

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub. 

“Sekarang pulanglah!” kata Ali. 

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis. 

“Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya,” kata orang itu penuh sesal. 

Ali tersenyum dan mengangguk. 

“Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun.” 

Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya. 

“Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...,” kata Ali sebelum orang itu pergi.” Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku,” sambung Ali. 

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. 

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang. 

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung dan pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya. 

“Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?” 

“Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah,” kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru. 

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan. 

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo’a,” Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.”
(http://ilma95.net/pojok_anak.htm)



Bagi seorang budak, pergi menjumpai Nabi SAW. Bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Keluar rumah majikannya untuk keperluan sendiri pun tidak bisa. Apalagi untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW, yang menjadi musuh kaum musyrikin Quraisy. Musuh majikan Bilal sendiri! 

Dengan susah payah, akhirnya Bilal bin Rabah berhasil menjumpai Nabi Muhammad SAW. Ia menyatakan maksudnya untuk masuk Islam. Nabi mengajarkan cara-cara masuk Islam dengan berwudhu (bersuci), lalu mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian melakukan shalat dua rakaat. 

Betapa bahagia dan beruntungnya Bilal, karena Nabi sendiri yang mengajarkan syariah Islam kepadanya. Namun, keislamannya harus disembunyikan. Sangat berbahaya jika majikannya tahu akan hal itu. Untuk itu, Bilal menjalankan perintah agamanya secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, pada akhirnya ketahuan juga. 

Umayyah bin khalaf marah besar. Terkutuklah budaknya yang berani-beraninya menjadi pengikut Muhammad itu! Sesaat Umayyah bin Khalaf kehilangan akal. Bagaimana dia bisa lengah menjaga budaknya? Bagaimana sampai si budak tidak ketahuan pergi diam-diam menjumpai Muhammad? 

Dalam hati, Umayyah bin Khalaf sebenarnya mengakui kelebihan-kelebihan Muhammad. Bahwa anak Abdullah itu, si Muhammad, memang orang yang sangat jujur. Orang yang tidak pernah berdusta. Dia, juga berperilaku sangat sopan, rendah hati, ramah. Pendek kata, banyak hal yang baik pada diri Muhammad itu. Namun, bahwa dia mengajarkan agama baru yang bertentangan dengan agama kaum Quraisy, itulah yang salah besar menurut Umayyah bin Khalaf. Itu tidak boleh dibiarkan. Harus diperangi, dimusuhi, dan jika mungkin dibasmi! 

Umayyah punya sahabat bernama Uqbah bin Mu’ith. Uqbah mendengar perihal budak Umayyah yang masuk Islam itu.

“Celakalah engkau Umayyah!” katanya. “budakmu menjadi pengikut orang yang menghina agama kita. Yang menghina tuhan-tuhan kita Al-Laata dan Al-Uzza!” 

“Ya. Celakalah budak itu. Apa yang harus kulakukan terhadapnya?” 

“Siksa dia sampai mau meninggalkan agamanya yang sesat itu!” 

“Akan kusiksa dia sampai mati kalau dia tidak mau meninggalkan kesesatannya!” 

Kesesatan! Siapakah yang sesat ? Si budak Habsyi yang telah menganut agama kebenaran atau mereka yang menyembah berhala-berhala mati itu? Orang-orang sesat itu menganggap yang benarlah yang sesat! 

Matahari sedang terik-teriknya. Padang pasir menjadi bagaikan hamparan bara. Pada saat seperti itu, Bilal bin Rabah ditelanjangi lalu diseret ke tengah padang pasir. Tidak terbayangkan betapa panas butir-butir pasir itu. Bilal ditelentangkan. Matahari dipuncak langit membakar bagian depan tubuhnya. Sementara punggungnya disengat panas pasir yang bagaikan bara api. 

Tidak itu saja yang dialaminya. Seorang musyrikin yang menjadi algojo penyiksa, mengambil sebongkah batu besar. Batu itu diangkat tinggi-tinggi, lalu dijatuhkan ke dada Bilal!
Batu itu berat sekali, juga panas tidak kepalang. Batu itu menghantam dada Bilal sampai tulang-tulang iganya patah dan terus dibiarkan menindih dada. Mengimpit dengan beratnya, dan membakar dengan panasnya. 

“Ingkari agama sesat ajaran Muhammad!” seru algojo penyiksa Bilal. “Siksaan ini akan dihentikan bila engkau meninggalkan kesesatanmu!” 

Bilal tidak sudi mengingkari keyakinan dan keimanannya. 

“Ucapkan Al-Laata dan Al-Uzza. Namun, apa yang terdengar dari mulut Bilal? 

“Ahad.....Ahad.....Ahad.....” Begitu yang didengar Umayyah bin Khalaf dan para algojo yang menyiksa Bilal. 

“Apa yang kau katakan?” jerit Umayyah bin Khalaf dengan kalapnya. 

“Ahad....Ahad.....Ahad.....” 

Bilal hanya berucap begitu berulang-ulang. Maksudnya adalah Allah yang Maha Tunggal atau ‘Allah yang Maha Esa’. 

Siksaan dilanjutkan. Berbagai cara keji dan kejam dilakukan hingga hampir tidak ada bagian tubuh Bilal yang tidak terluka. Namun dia tetap tabah. Dia tetap mengucapkan Ahad....Ahad. tidak sudi memuji dan menyerukan Al-Laata dan Al-Uzza seperti yang diharapkan para penyiksanya. 

Umayyah bin Khalaf dan para algojo kehilangan akal. Bagaimana lagi cara menyiksa Bilal, supaya budak Habsyi itu menyerah? 

Hari telah sore. Sinar matahari tidak sepanas bara lagi. Siksaan itu dihentikan. Bilal akan dibawa pulang ke rumah Umayyah bin Khalaf. Akan tetapi, tidak begitu saja disuruh berjalan. Lehernya diikat seperti kambing. Lalu Umayyah bin Kalaf memanggil anak-anak kecil. Disuruhnya anak-anak itu menggiring Bilal melalui lembah dan bukit-bukit. Mereka bersorak-sorai riuh. Memukul, mencakar, dan meludahi Bilal sepanjang jalan. 

“Ini pelajaran bagi budak-budak lain yang berani menjadi pengikut Muhammad!” kata Umayyah bin Khalaf. “Juga pelajaran bagi para pemilik budak. Mereka harus mewaspadai budak-budaknya.” 

Siksaan itu diulanginya keesokan harinya. Demikian pula lusanya. Namun, Bilal tidak mau menyerah. Dari mulutnya terus terdengar Ahad......Ahad......Ahad. 

Seorang Quraisy datang dan berseru ketika Bilal sedang disiksa. 

“Hentikan!” katanya dengan suara lantang. Apa yang kalian lakukan ini? Menyiksa seorang budak dengan sekejam ini? Lepaskan dia!” 

Orang itu tampaknya berpengaruh. Bilal dilepaskan dan ikatan ditubuhnya dibuka. Orang Quraisy itu lalu memberinya minum. “Terima kasih......” ucap Bilal dengan suaranya yang lemah. Ia sungguh tidak berdaya. Seluruh tubuhnya penuh luka. Seluruh tulangnya bagaikan remuk belaka. Bernafas pun sangat menyakitkan dadanya. Bicara sangat menyakitkan rahangnya. 

“Mengapa kau keras kepala begitu, Bilal?” Tanya orang Quraisy itu. “Mestinya lunakkan hatimu, supaya siksaan ini tidak terus menerus kau terima. Kau sendiri yang merugi.” Bilal diam mendengar ucapan orang Quraisy ini. 

Umayyah bin Khalaf itu merasa malu jika menghentikan siksaan sebelum kau menuruti kehendaknya,” kata orang Quraisy itu dengan kata-kata lembut. “Ucapkanlah Al-Laata dan Al-Uzza, meskipun tidak dengan sepenuh hatimu. Supaya Umayyah bin Khalaf menghentikan siksaan ini tidak dengan rasa malu.” 

“Ahad.....Ahad......Ahad.....” terdengar dari mulut Bilal ucapan itu. 

Orang Quraisy itu marah. Dia serentak berdiri. Terkutuk! Kamu memang budak celaka! Siksa dia sampai mati!” Teriaknya.
Ternyata itu memang siasat para penyiksa Bilal. Ada yang membujuk dengan kata-kata manis supaya Bilal menyerah. Namun, budak Habsyi itu tetap pada pendirian dan keyakinannya. Mati baginya tidak menjadi persoalan lagi. Sakit bukan hal yang menakutkan. Bukanlah dia telah mengalaminya selama berhari-hari ini? Dia tidak mati juga, tentunya karena Allah tidak menghendakinya. 

Bilal kembali disiksa. Begitu berjalan sampai berhari-hari. Para penyiksanya sampai jenuh dan bosan. Kehilangan akal untuk menaklukkan budak yang keras kepala itu. 

Penganiayaan terhadap budak yang memeluk agama Islam pada waktu itu sering terjadi, bahkan ada yang sampai mati. Orang-orang musyrikin Quraisy bisa menyiksa budak sampai mati. Mereka tidak khawatir akan tindakan balas dendam dari kerabat si budak sebab para budak itu tidak mempunyai kabilah (kaum / keluarga besar). 

Berbeda dengan orang yang bukan budak. Kerabat dan anggota kabilahnya pasti akan menuntut balas. Menyiksa budak itu sangat aman. Bukankah budak tidak lebih dari binatang ternak bagi mereka? 

Penyiksaan terhadap Bilal ini didengar oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Orang ini telah memeluk Islam. Dulu ia mempunyai banyak sekali budak karena dia orang kaya. Di masyarakat Quraisy pada waktu itu, semakin kaya seorang akan semakin banyak memiliki budak. Kini Abu Bakar Ash-Shiddiq telah membebaskan budak-budaknya, karena Islam menentang perbudakan. Tinggal seorang budak negro yang masih belum dimerdekakan. 

Abu Bakar mendatangi tempat penyiksaan Bilal bin Rabah. Dengan iba disaksikannya penyiksaan yang kejam tidak berperikemanusiaan itu. Para algojo penyiksa itu sudah berlaku bagai binatang saja. Tidak punya rasa belas kasihan sedikit pun terhadap manusia lemah yang kebetulan derajatnya dianggap serendah ternak karena dia budak.

“Apa kau tidak malu menyiksa orang yang lemah itu?” tegur Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Umayyah bin Khalaf. 

Engkaulah yang merusak kepercayaannya dan engkau pula yang menjauhkannya dariku!” seru Umayyah bin Khalaf dengan geramnya. Ia tahu, Abu Bakar Ash-Shiddiq itu orang Islam, sama seperti Bilal. 

“Aku mempunyai seorang budak negro yang kuat. Jauh lebih kuat dari pada orang yang kau siksa itu. Ia akan kuserahkan kepadamu. Kutukar dengan budak lemah itu.” 

Umayyah bin Khalaf benar-benar telah kehabisan akal untuk mengatasi kebandelan budaknya itu. Ia sendiri sudah ingin mengakhiri penyiksaan itu, karena dia tahu Bilal tidak akan mau menyerah. Namun, jika menghentikan penyiksaan tanpa alasan, dia akan merasa sangat malu.
Kini ada orang yang menawarkan pengganti Bilal. 

“Bawa kesini budak negro itu,” kata Umayyah bin Khalaf. 

Budak negro itu dipanggil. Inilah saat yang paling bersejarah bagi Bilal. Ia telah pasrah dan rela mati asalkan tetap dalam iman Islamnya. Ia pun menyangka tidak lama lagi ajalnya akan tiba karena tubuhnya tidak tahan lagi terhadap siksaan berat itu. Tiba-tiba ada orang menyelamatkannya! 

Ia dilepaskan dari tali yang mengikatnya. Tubuhnya lunglai sehingga Abu Bakar harus memapahnya ketika membawanya pergi dari tempat itu. Bilal berlutut di depan Abu Bakar Ash-Shiddiq. 

“Terima kasih, Tuan.......” katanya lemah sekali. “Kini hamba menjadi milik Tuan.....”. 

“Tidak,” Kata Abu Bakar Ash-Siddiq. “Kau kumerdekakan”. 

Dimerdekakan adalah hal yang sangat luar biasa bagi seorang budak. Artinya, dia dibebaskan dari perbudakan. Dia menjadi orang yang merdeka yang tidak diperbudak oleh siapapun. Bilal bagaikan tidak percaya akan apa yang didengarnya. Namun sungguh ia benar-benar mendengar ucapan itu. Ucapan yang keluar dari mulut seorang muslim sejati. Orang yang telah memerdekakan budak-budaknya. Tidak dianggapnya bahwa itu merupakan kerugian besar baginya, padahal budak-budak itu dulu dibelinya dengan mahal di pasar budak. 

Islam mengajarkan persamaan hak setiap manusia. Di mata Allah, derajat manusia sama. Yang membedakannya adalah amal ibadah mereka. 

Bilal bukan satu-satunya budak yang disiksa yang dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Siddiq. Masih banyak lagi budak muslim yang disiksa dan dibeli oleh Abu Bakar Ash-Siddiq, kemudian dibebaskan. Diantaranya adalah Amir bin Fuhairah, budak-budak perempuan bernama Labibah, Zinnirah, dan An-Nahdiyyah. 

Bilal bin Rabah kemudian menjumpai Nabi Muhammad SAW. Ia tetap bersama Nabi sampai ikut hijrah ke Madinah. Sejak saat itu Bilal tidak pernah terpisahkan dari Nabi.

http://ilma95.net/pojok_anak.htm



Jika Allah Ta’ala memberikan kita kesempatan untuk memasuki bulan suci Ramadhan, maka tentu Allah Ta’ala menghendaki ada kebaikan, berkah dan karunia yang bisa kita petik dari bulan suci ini. Allah Ta’ala menghendaki ada perbaikan pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita. Apakah yang telah kita perbuat selama sebelas bulan yang lalu?. Hari-hari yang kita warnai dengan shalat lima waktu yang kwalitasnya tidak bagus. Hilangnya kekhusyukan, sibuk dengan urusan dunia saat adzan di masjid sudah berkumandang, ketinggalan raka’at shalat berjama’ah di masjid, atau bahkan shalat di rumah dan tidak ikut shalat berjama’ah di masjid.

Hari-hari yang kita warnai dengan kesulitan mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sekali dalam sebulan.

Hari-hari yang kita warnai dengan besarnya belanja untuk kepentingan pribadi dan keluarga, bahkan seringkali untuk perkara yang tidak penting. Di saat yang sama kita kesulitan atau merasa sangat berat, untuk menginfakkan sebagian penghasilan kita untuk kepentingan jalan Allah.

Hari-hari yang kita warnai dengan ketekunan mengikuti acara kantor, acara organisasi, pertemuan bisnis dan seterusnya. Pada saat yang sama kita jarang hadir dalam majilis-majlis ilmu di rumah-rumah Allah.

Hari-hari yang kita lewati dengan tidur lelap sepanjang malam, sehingga setan leluasa mengencingi telinga kita. Hari-hari yang kita tidak bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam yang terakhir dan tidak beristighfar di waktu sahur.

Hari-hari yang kita penuhi dengan kelalaian, kemaksiatan dan kemungkaran. Hari-hari saat kita berkawan akrab dengan setan dan hawa nafsu. Hari-hari di saat mata, telinga, lisan, tangan dan kaki kita terperangkap dalam bujuk rayu setan dan hawa nafsu.

Hari-hari di saat kita menjauhi Allah dan ampunan-Nya. Itulah sebelas bulan yang telah lewat. Allah Ta’ala berkehendak untuk membimbing kita kembali ke jalan-Nya. Allah Ta’ala menghendaki kita bertaubat dan memperbaiki diri. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk kembali bersimpuh di hadapan-Nya dalam taubat yang nashuha. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk kembali menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Maka Allah Ta’ala memanjangkan usia kita sampai bulan suci Ramadhan ini. Maka Allah Ta’ala memberi kita kesempatan selebar-lebarnya untuk mengisi bulan suci ini dengan amalan-amalan yang akan menghapuskan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita dan mendekatkan kita kepada ridha Allah dan ampunan-Nya.

Inilah karunia agung itu. Inilah kesempatan emas kedua yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Allah Ta’ala sangat menyayangi kita. Allah Ta’ala tidak membiarkan kita selalu lalai, terpedaya dan berlumuran dosa. Allah Ta’ala menghendaki kita mensucikan jiwa kita.
Maka marilah kita menyambut dan mengisi karunia agung bulan suci Ramadhan ini dengan amalan-amalan yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala. Janganlah kita menyia-nyiakan dan menelantarkan bentuk kasih sayang Allah Ta’ala ini.

Allah Ta’ala berfirman:
Dan Allah mengajak kepada surga dan ampunan-Nya dengan izin-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 221)
Dan Allah mengajak kepada negeri keselamatan (surga) dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Yunus [10]: 25)

Segala puji bagi-Mu, wahai Allah, atas karunia bulan suci yang penuh berkah ini. Segala puji bagi-Mu, wahai Allah, atas kesempatan kesekian kalinya yang Engkau karuniakan kepada kami, untuk memperbaiki dan mensucikan diri kami. Segala puji bagi-Mu, wahai Allah, atas kasih sayang-Mu kepada kami.

Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu. (http://www.anaksaleh.com)